Kamis, 21 Februari 2013

TATKALA ALLAH MELAWAT UMATNYA DI TIMUR BORNEO (Sebuah Catatan Sederhana Tentang Perayaan Natal dari GKPS Resort Kalimantan Timur)


Perayaan Natal yang kami lakukan memang tak lebih dari sebulan. Namun kami rindu Roh Natal yang membawa kedamaian, sukacita dan kasih itu terus bertiup sepanjang hidup. Kidung Natal yang kami nyanyikan memang hanya berdurasi singkat, namun kami rindu gaungnya tetap mengisi relung hati kami sepanjang usia. Memang, peran gembala, majus dan para malaikat sudah selesai dilakoni di pentas perayaan Natal, tapi kami berharap karakter dan semangat pembawa sukacita serta damai sejahtera itu merekat erat pada setiap pribadi. Inilah kerinduan yang kami miliki, yang mebuat kami berani merayakan Natal di tengah-tengah keterbatasan kami.
  

Perayaan Natal di Timur Borneo dimulai di Kota Beriman: Balikpapan, pada hari Sabtu, 8 Desember 2012 melalui Perayaan Natal Seksi Sekolah Minggu GKPS Balikpapan. Disini, anak-anak Sekolah Minggu tampak begitu ceria dengan pakaian dan asesoris Natalnya yang –mungkin- baru dibeli orang tuanya. Berita Natal telah ‘menyihir’ para generasi penerus gereja yang masih penuh dengan keterbatasan ini mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyampaikan pesan Ilahi bahwa Kristus Sang Juruslamat telah lahir.
 
Bagi kami, inilah sejatinya Natal! Natal yang mengubah seseorang menjadi pribadi yang mau memberi diri untuk memberitakan keselamatan Kristus. Apa yang terjadi pada peristiwa Natal lebih dari dua milenium yang lalu kini terulang di Timur Borneo. Tentu kita masih ingat dengan para gembala yang jauh dari kesan ‘mapan’ namun mau memberi diri memberitakan kebesaran Kristus yang lahir itu (Lih. Luk. 2:17-20). Inilah lawatan Allah yang kami rasakan kala itu. Allah ‘menggelitik’ jiwa sadar dan iman kami, agar dikemudian hari kami memiliki kemauan yang mengakar untuk menjadi saksiNya ditengah-tengah keterbatasan kami. 

Seminggu kemudian, Gema Perayaan Natal pun berlanjut di Kota Tepian: Samarinda, melalui Perayaan Natal Sekolah Minggu dan Pemuda GKPS Samarinda. Sungguh, apa yang kami lihat dalam perayaan Natal kali ini sangat luar biasa. Dekorasi Natal yang ditampilkan seolah membangkitkan ingatan masa lalu kami akan perayaan Natal di huta hasusuran. Betapa tidak, dekorasi Natal kali ini dibuat bernuansa Simalungun, sungguh unik dan menarik. Tak hanya itu, liturgi Natal yang dikemas dengan ragam visualisasi sungguh menceritakan realitas hidup yang real. 
 
Sedikit melirik ke belakang, ternyata semuanya itu adalah buah karya naposo, yang notabene adalah para karyawan dan mahasiswa yang diakhir tahun biasanya disibukkan dengan deadline pekerjaan dan persiapan ujian-ujian di kampus masing-masing. Ternyata Terang Natal telah menstimulasi para tunas muda gereja ini menjadi pribadi yang lebih berhikmat. Kembali, impact kelahiran Kristus terulang disini! Ini mengingatkan kami akan pengalaman Para Majus yang diberi hikmat oleh Allah untuk memilih jalan lain untuk pulang ke Timur, sehingga luput dari kejaran sang Herodes (Lih. Mat. 2:12). Dan dengan demikian berita Kristus terus berlanjut. Natal kali ini ternyata tak hanya mengajarkan kami akan arti pentingnya memberi diri dalam mewartakan Kristus, tetapi juga mengajarkan bahwa didalam kemauan itu Allah akan bekerja dengan memberi hikmat sehingga membaralah semangat, kerjasama, kreativitas dan inovasi yang tiada henti.

Esok harinya, Minggu, 16 Desember 2012, gema Natal kembali bergaung di GKPS Balikpapan melalui Perayaan Natal Seksi Pemuda. Memang, formula acara dan persembahan dalam perayaan Natal ini tak jauh berbeda dengan apa yang telah dipersembahkan Pemuda GKPS di Samarinda pada hari sebelumnya. Akan tetapi, kali ini Natal memberikan pesan plus bagi kami. Betapa tidak, gita pujian Natal tak hanya berkumandang dari mulut Pemuda GKPS, tetapi juga dikumandangkan oleh para Pemuda Gereja tetangga (HKBP dan GKPI) yang hadir dalam Perayaan Natal itu. Bagi kami adalah fakta yang membelajarkan! Natal telah menyatukan kepelbagaian dan membentuk harmoni pujian yang luar biasa. Mungkin, inilah yang terjadi pada Natal lebih dari dua milenium yang lalu, dikala kepelbagaian (malaikat, bala tentara sorga, gembala, orang Majus) dipersatukan oleh Natal sehingga berpadu membentuk harmoni pujian sukacita yang luar biasa. Kami merasa bahwa ini juga adalah lawatan Allah yang luar biasa bagi kami. Keberadaan GKPS di Timur Borneo ini meniscayakan realita heterogenitas. Allah telah melawat kami sekaligus memberikan pencerahan bahwa kepelbagaian bukanlah lampu merah bagi pewartaan Injil Kristus. Doa kami, melalui lawatan Kristus kepada kami pada Natal kali ini, memantapkan langkah kami untuk terus memberitakan Injil kepada segala makhluk (Mrk.16:15). 

Seminggu kemudian kumandang Natal diperdengarkan oleh Seksi Bapa dan Seksi Wanita. Nyanyian Hari Ibu (Mothers Day) dipadu dengan genderang Natal. Di dua tempat yang berbeda (Balikpapan dan Samarinda),   dalam waktu yang bersamaan, kumandang Natal diperdengarkan. Perayaan Natal, yang dilaksanakan dalam kebersamaan seksi bapa dan seksi wanita, sekaligus tepat pada perayaan hari ibu bukanlah suatu hal yang kebetulan bagi kami! Ini adalah bagian dari rencana Allah untuk membentuk kami. Ditengah maraknya fenomena KDRT dan ketidakharmonisan Rumah tangga, Natal disini hadir dan mencoba menatang fenomena itu. Natal memperlihatkan bahwa bapa dan inang ternyata mampu duduk bersama dalam mepersiapkan dan melaksanakan pujian Natal yang indah bagi kemuliaan Tuhan. Dan kami percaya, kebersamaan dan harmoni pujian itu tidak hanya berhenti sampai di gerbang gereja, akan tetapi dapat terus menyala di setiap rumah tangga. Natal ini, seolah menepis fenomena KDRT dan ketidakharmonisan itu. Keyakinan kami, Natal kali ini adalah cara Allah melawat sekaligus memberi pesan damai bahwa sejatinya bapa dan inang adalah mitra sejajar yang dipersatukan Allah, yang hidup dalam kesatuan kasih (Kej. 2:18; Mat. 19:5-6; Mrk. 10:7-8; 1 Kor. 6:16; Ibr. 13:3). 

Inilah sekelumit cerita sukacita dan harapan kami dalam Natal 2012 dai Timur Borneo ini. Dari hati yang terdalam, kami memanjatkan Pujian yang sebesarnya kepada Allah yang telah bersedia melawat kami dai akhir tahun ini, dan kami percaya, itu akan berlangsung sepanjang masa. Terimakasih buat seluruh Jemaat yang telah bersedia menjadi pembawa berita Natal dari Allah untuk kita. Kiranya damai Natal terus menyala dalam hati kita...

Salam Natal dari Timur Borneo...
Tulisan Ini Telah Dimuat di AB GKPS Edisi 466 Februari 2013 (Hal. 34-35)
                                                                                                                         

Sibasaon & Ambilan Minggu Invocavit, 17 Februari 2013 (MARTURIA GKPS DISTRIK III)



Sibasaon Minggu Invocavit, 17 Februari 2013
5 Musa 6:10-19

Parlobeini.
Buku 5 Musa aima Buku palimahon humbani Tanakh (Taurat). Bani bahasa i Eropa, buku 5 Musa isobut Deutronomium, na iadopsi humbani bahasa Latin pakon bahasa Yunani Δευτερουόμιου. Bani bahasa Heber buku on isobut Devarim na marati “kata-kata”. Istilah Devarim ibuat humbani kalimat awal bani buku on: "Eleh ha-devarim" na mararti “inilah perkataan-perkataan” (yang diucapkan Musa). Jadi, isi pokok 5 Musa on aima pidato (perkataan-perkataan) Musa hubani bangsa Israel, khususni sanggah marianan bangsa ai i dipar ni Jordan, bani pamah tontang ni Suf, iholang-holang ni Paran, Tofel, Laban, Hazerot pakon Disahab (Lih. 5 Mus. 1:1), anjaha panorangni aima bani ari parlobei bulan pa sampuluhduahon bani tahun terakhir pardalananni sidea hun Masir (5 Mus. 1:3).

Pidato on aima songon sada wejangan laho pasirsirhon diri mamasuki wilayah na dob dokah itadingkon sidea. Mase pala ibahen Musa wejangan ai hubani Israel? Parlobei: Tongon, realitasni Kanaan na sinobutni Bibelta aima tanoh habaoranni dadih pakon manisan ni huramah (5 Mus. 6:3), tapi maningon do homa jujur hita mangidah bahasa paima imasuki sidea huta Kanaan, domma adong ijai bangsa-bangsa Kanaani na lang sahaporsayaon pakon sidea anjaha ai berpotensi mempengaruhi (parsedahon) identitas Israel selaku bangsa pinilihni Naibata. Kanaan adalah peluang sekaligus ancaman bani identitas Israel. Na paduahon: Padanni Naibata bani Israel aima padan na marlaku marribu-ribu sundut (Lih. 5 Mus. 7:9). Jadi panratah-ratahion marhitei wejangan nokkan martujuan laho memotivasi Israel ase totap manggolom padan na dob binulawankon sidea pakon Naibata. Ibagas na sihol pungkahonni Israel babak baru pargoluhanni sidea, iojur do sidea ase totap manggoluh ibagas jalur na dob itotapkon Naibata marhitei padanNi, ase ulang surut idopni uhurni Naibata bani goluhni sidea. 

Hatorangan Teks
Laho mamasuki tanoh Kanaan na mengundang anjaha mengandung tantangan ai, Musa mangontang bangsa Israel laho mempersiapkon diri. Persiapan on martujuan ase sanggah ibagas parjumpahanni (asimilasi pakon sosialisasi) sidea pakon bangsa-bangsa Kanaani na manumbah Baal/animisme, bangsa ai totap boi pataridahkon jati diri na mantab. Lang terpengaruh/salih. Persiapan ai ipungkah Musa marhiteihon na paratahkon konsekwensi perjanjian na dob binulawankon ompungni sidea ronsi na binulawankonni sidea pakon Naibata (5 Mus. 4:31; 5:2-3; 7:9) .

Konsekwensi perjanjian ai, Israel maningon manggoluh ibagas hapansingon (qadosy). Halani ai porlu do adong aturan (mitswah) pakon uhum (misypatim) na gabe pranata pargoluhan (Lih. 5 Mus. 6:1-2). Pandalankonni aturan pakon uhum ijon, sedo bermaksud mambahen beban bani Israel, tapi in ma hataridahan balosni sidea dompak habanggalonni pambahenanni Naibata na dob paluahkon sidea humbani parjabolonnonni Masir. Ase, pandalankonon aturan pakon uhum ibagas malasni uhur (sedo beban) ai do na pinindo ni Naibata ijon (Bdk. Psalm. 119:47). Jadi, pandalankonon ni bangsa ai bani aturan pakon uhum, aima na gabe tanda bahasa sidea aima anakni Naibata. Identitas selaku bangsa pinilihni Naibata boi totap sihat bani Israel pitah ibagas hasirisronni mardalan bani aturanni Naibata.

Parpadanan (covenant) aima idupni uhur (anugerah) sekaligus parentah, janah haduasi mardalan seirama. Ijin irahut padan ai, ijai ma homa maningon mardalan dua sisi parpadanan nongkan. Marhitei parpadanan ai ibere do hubani Israel idopni uhur songon na dob binulawankonni Naibata hubani sidea. Bani konteks perikop on ipatalar marhiteihon na jinalo sidea huta na bolon pakon na dear na so pinungkahni sidea, rumah na gok marisi ugas na so niisini sidea, parigi na hinurak na so hinurakni sidea, sonai age anggur pakon hayu zetun na so sinuanni sidea (5 Mus. 6:10-11). Halani ai gabe keharusan hubani Israel laho manggoluh ibagas uhum pakon aturanni Naibata. Ipagolpa si Musa do bangsa ai ase totap jaga bani aturanni Naibata, ulang lupa sidea (5 Mus. 6:12-13). Lupa mararti do ai mangengkar! Pangengkaran hubani padan mararti do ai pangengkaran hubani idopni uhurni Naibata. Anjaha mararti do homa ai hamateian/ kebinasaan. Bani hata na pondok boi hatahononkon bahasa hasirsironni Israel mandalankon uhum pakon aturanni Naibata, ai do na gabe hagoluhan bani sidea. Sebalikni, pangengkaran mararti hamateian. Hatani Naibata do na gabe bona ni hagoluhan bangsaNi anjaha maningon in ma sitangihononkon.

Agama pakon budaya bangsa-bangsa Kanaan manghaporsayai bahasa Baal pakon dewa-dewa aima sumber hagoluhan (mambere kesuburan pakon kelimpahan). Proses asimilasi pakon sosialisasi na terjadi i Kanaan ra do mangkorhon ha-lupa-on bani aturan ampa uhumni Naibata. Sebagai bangsa na mulak mandasor, tontu buei do kesenjangan na terjadi antara bangsa Kanaani pakon Israel. Kesenjangan cenderung menundang jolma laho berfikir instan, mandalankon cara na so talub, pnl. Ase, ibagas na mandompakhon tantangan on, pidatoni Musa on sihol patotapkon uhurni bangsa ai bani pasu-pasu pakon gogohni padanni Naibata ibagas hatundukonni bani uhum ampa aturan.   

Manangihon ronsi manghagoluhkon uhum pakon aturanni Naibata na ipadas sebagai konsekwensi parpadanan Israel pakon Naibata aima pangajaran pakon petunjuk na manrimpun sura-surani Naibata hubani bangsaNi. Aturan pakon uhum bermuara bani kenyaman ronsi kesejahteraan (syalom). Aturan pakon uhum maningon do niaruson domu hubani maksudni Naibata (syalom) ai. Mangiringkon uhum pakon aturanni Naibata garansini aima syalom. Ai do ase bani ayat 14-15 ipagolpa do bangsa ai ase ulang manlembang hubani naibata na legan (Baal, dewa). Panlembangion mararti mambangun tembok pemisah hubani syalom ai, mararti do homa ai pagajakhon ringisni Naibata, janah lambin dohor hu mateian.

Setia do Naibata bani padanNi (5 Mus. 5:10). Kesetiaanni Naibata bani padan na binulawankonNi domma nyata bani sejarah pargoluhonni Israel. Lang porlu be ilajou atap pe ipertanyahon use (5 Mus. 6:16). Manlajou atap pe mempertanyakan kesetiaanni Naibata mararti sangsi bani kuasa ampa idopni uhurNi. Bani ayat-ayat sebelumni domma ipatugah Musa piga-piga fakta sejarah kesetiaanni Naibata bani padanNi (5 Mus. 6:10-11). Pengungkapan fakta sejarah on bermaksud patotapkon haporsayaonni Israel ase ulang be sangsi bani Jahowa. “Lang be panorangni manungkun konsistensi kesetiaanni Naibata bani padanNi, na tang siporlunan sonari aima pataridahkon konsistensi kesetiaanta bani padan ai”. Ai do ase, gomus ipagolpa si Musa bangsa Israel laho manramotkon padan, aturan pakon titahni Naibata hubani sidea ibagas habujuron (5 Mus. 6:17).

Manramotkon padan, aturan pakon titahni Naibata ibagas habujuron maningon do iterjemahkon bani situasi kongkret, nyata. Titik berangkat penerjemahan ai aima holong dompak Naibata secara total (5 Mus. 6:5). Mase? Halani titik berangkat parpadananni Jahowa dompak Israel pe maronjolan bani holong do. Ambahni ai, pelaksanaan aturan pakon uhumni Naibata na lang maronjolan bani holong pasti mambahen aturan pakon uhum ai gabe aturan na matei, keras, janah gabe gurita aturan na mambahen goluh kaku anjaha suram. Wujudnyata panramotionni padan, aturan pakon titahni Naibata aima goluh na pintor, na madear anjaha marorientasi hu hasonangan (syalom). Pambahenan na sonon aima pambahenan na marpihak bani aturan pakon uhumni Naibata, janah mararti do ai marpihak bani Naibata. Marhiteihonni ai terjadi ma komuni tindakan antara jolma pakon Naibata. Ibagas komuni na sonai ma jolma margogoh mantaluhon ganup munsuh, ancaman na sihol mandorap goluh on (5 Mus. 6:19).  

Poin-poin Renungan Pakon Diskusi
1.       Perikop 5 Musa 6:10-19 on patugahkon bahasa pasu-pasuni Naibata (Kanaan: tanoh habaoranni dadih pakon manisan na huramah) mengandung dua sisi: Peluang pakon tantangan/ ancaman. Peluang do ai bani Israel laho pataridahkon hajongjonganni sidea selaku bangsa na pinilih (istimewa), tapi sekaligus gabe ancaman bani hajongjonganni sidea. Menurut ham, aha do na gabe syarat ase pasu-pasuni Naibata ai boi tetap eksis gabe peluang?
2.       Ipatugah ambilan on hubanta, bahasa panramotion bani uhum pakon aturanni Naibata aido na gabe kunci kesuksesanni Israel (bangsa pinilih). Naha do sikapta mangidah kenyataan bani goluh on bahasa buei do halak na jelas lang manramotkon aturan pakon uhumni Naibata (Mis. KKN) tapi “torsa” do idahon goluhni, sementara dong na “bujur” tapi totap do manaron?
3.       Israel (sonai homa keluarga, pribadi ni halak na porsaya) ipilih laho gabe ‘etalase’ (sitiruon) bani bangsa-bangsa. Buei do kuasa na adong isekitarta na sihol mangagou tujuan on. Pidato Musa bani perikop on martujuan membentuk generasi na totap boi gabe ‘etalase’ marhiteihon mewarisi sikap na manghaholongi Jahowa anjaha manramotkon uhum ampa aturanNi. Naha do hita nuan membentuk generasinta selaku pribadi ronsi keluarga na pinilihni Naibata?

Pdt. Jonedy Chandra Purba
GKPS Resort Kalimantan Timur


Ambilan Minggu Invocavit, 17 Februari 2013
Mateus 4:1-11

Parlobeini
Parlajouan roh mandorap pargoluhanni jolma marhiteihon bagei aspek, bagei panorang ronsi bagei ianan. Tujuanni sonaha ase hatani Naibata lang be marhagogohon. Songan na hinatahonni Marthin Luther: “Ketika Firman Allah yang suci naik, ini selalu banyak ditentang Setan dengan segenap kekuatannya… ia menyerangnya dengan bahasa palsu dan roh-roh penyesat dan para pengajar sesat. Karena ia tidak dapat menghancurkan dengan kekuatan maka kemudian ia mencari cara untuk menekan dengan tipu muslihat dan dusta” (What Luther Says, Concordia Publishing House, edisi 1994, hlm. 395). Parlajouan aima manifestasi kuasa na sihol pamagouhon identitas. Bani Padan Nabasaia, ilajou sibolis do jolma (Adam pakon Hawa) ase lang be tunduk bani kesegambaranni pakon Jahowa. Anjaha bani Buku Mateus, ilajou sibolis in do Jesus ase magou identitasNi selaku Anak Hinaholonganni Naibata. Na takluk bani panlajouan mararti kehilangan identitas ma ia.

Adong do kemiripan alur kisah parlajoan bani buku 1 Musa pakon Buku Mateus. Na parlobei: Bani Buku 1 Musa kisah parlajouan itempatkon dobhonsi barita panompaon rampung. Parlajouan terjadi dobhonsi naibata menegaskon identitasni jolma (1 Mus. 1:26-28). Sealur do on pakon nasinuratkonni Mateus, na manuratkon kisah parlajouanni Jesus dobhonsi pemaparan partubuh pakon penyataan identitasNi marhiteihon pandidion (Mat. 3:3-17). Na paduahon: Bani buku Musa sipanlajou (sibolis) na ipatangkas marhitei profil ulog, manlajou marhiteihon cara na cerdik anjaha ipakei do bagei-bagei trik ampa taktis na jenius. Gaya na sarupa taridah do homa bani buku Mateus. Ilajou sibolis in do Jesus marhitei cara ampa trik na jenius homa (bahkan mamakei hata ni Naibata). Kesejajaran on mengandung pesan khusus. Mateus (sahalak Jahudi), dengan sengaja memanfaatkon struktur 1 Musa on laho patugahkon pesan: Bahasa ibagas Jesus do ipungkah tinompa na baru (Ef. 2:15; 4:24), Ibagas Jesus domma talu sibolis pakon ganup kuasani.

Hatoranganni Teks
Tonduy ni Naibata do na mambobai Jesus hu halimisan, ase ilajou Ia (4:1). Bani zaman Jesus adong ekspektasi bani halak Jahudi bahasa Mesias aima suruhan ni Naibata na martugas mantaluhon kuasa hagolapan. Anjaha halimisan imaknai sebagai ianan ni tonduy hagolapan. Jadi, secara eksplisit panoguonni Tonduyni Naibata hubani Jesus laho hu halimisan martujuan menjawab ekspektasi ai. Artini, harohanni Jesus hu halimisan marhitei panoguonni Tonduy patugahkon fakta bahasa ipungkah ma genderang perang manlawan kuasa tonduy hagolapan anjaha ipertegas do homa bahasa Ia ma Mesias ai.

Bani na mandalankon parporangan manlawan kuasa hagolapan (halimisan), ibobai Tonduy ni Naibata do Jesus, janah mandalankon ritual puasa do Ia. Marpuasa 40 ari 40 borngin pasingatkon hita bani aha na dob binahenni Musa bani Padan Nabasaia, aima hataridahan ketaatan (ketundukan) ampa relasi na intim pakon Naibata (Bdk. 2 Mus. 24:28; 5 Mus. 9:9, 18). Ritual puasa na binahenni Jesus bani perikop on menegashon hasirsironNi manghagoluhkon panogu-noguonni Tonduy ai Bani. Artini, idompakhon Jesus do parporangan ai ibagas panghasomanion ampa pangurupionni Tonduy, sedo maronjolan bani kuasa ampa gogoh kemanusiaanNi.

Secara hajolmaon, puasa 40 ari 40 borngin mambahen loheian Ia (Mat. 4:2). Hal on patugahkon sisi kemanusiawionni Jesus. Selaku jolma, wajar do Ia loheian dobhonsi marpuasa sonai dokahni. Gabe galek ma sisi kemanusiawionNi. Ipakei sibolis do keadaan on laho manlajou aha na dob iproklamirhon Naibata pasalSi sebelumni (Mat. 3:17). Isuruh ma Ia mambahen batu gabe ruti (Mat. 4:3). Parlajouan na parlobei on bermaksud laho manguji prioritas ampa orientasi pargoluhan. Selaku anak hinaholonganni Naibata, aha do na gabe prioritas pakon orientasi goluhNi? Sipanganon atap Hatani Naibata? Material atap spiritual? Jesus mangutip 5 Musa 8:3 laho mambalosi parlajouan ai. Bani 5 Musa 8:3 ipatugah bahasa Naibata menguji bangsaNi 40 tahun dokahni i halimisan anjaha paturutonNi do sidea loheian, tujanni ase bangsa ai menyadari aha do sasintongni prioritas pakon orientasi goluhni sidea. Tongon, porlu do sipanganon tapi lang sipanganon na gabe jaminan pargoluhan. Porlu do mangan, tapi sedo mangan na gabe prioritas pakon orientasi bani pargoluhan on. Marhiteihon kisah 5 Musa 8:3 on Naibata sihol patugahkon bahasa hatundukonni bangsa ai hubani Hatani Jahowa ai do na padaskon sidea hubani hagoluhan. Prioritas hidup berkaitan do pakon orientasi hidup. Anggo Hatani Naibata do na gabe prioritas bani goluh secara otomatis goluhta pe pasti berorientasi bani Kristus (gabe sarupa pakon Naibata). Goluh spiritualta mengontrol goluh jasmaniahta. Lohei mewakili ganup hisap-hisapni daging (nafsu). Janah balosni Jesus on patugahkon banta ase menempatkon hisap-hisapni daging (nafsu) bani ianan na sasintongni (tepat). Jolma sedo jabolon bani hisap-hisapni dagingni, tapi gabe tuan do. Ambahni ai, menempatkon diri gabe tuan bani hisap-hisapni daging berkaitan do ai pakon keyakinanta bani pemeliharaan Allah bani goluh on.

Panlajouan na paduahon aima godaan laho menggeser panggilan pakon sikap hidup. Ihatahon bani ayat 5-6: “Dob ai iarahkon sibolis ai ma Ia hu huta na mapansing ai, ipajongjong ma Ia bani anjung-anjung ni rumah panumbahan ai, anjaha nini ma hu-Bani: Anggo Anak ni Naibata do Ham, lumpathon Ham ma hu toruh, ai tarsurat do: SuruhonNi do malekatNi manatang-natang Ho, ase ulang antuk naheimu bani batu”. Domma sinobut sebelumni bahasa Jesus aima Anak hinaholongani Naibata, na tinoguni TonduyNi, na roh hu dunia on laho pasaudkon sura-suraNi. Isurahon Naibata do ase Mesias na roh ai, roh ibagas rupa juak-juak (Jes. 53:4-12; Flp. 2:7). Panggilan ampa sikap hidup mesias aima menghamba. Ibagas panggilan ampa sikap hidup na menghamba lang adong keangkuhan/ kesombongan. Panlajouanni sibolis on mencoba menggeser panggilan pakon sikap hidup menghamba nokkan ai. Hal on kontradiktif do pakon panggilan ampa sikap goluh na maningon ipataridahkon Jesus. Pangengkaran bani panggilan pakon sikap hidup ai mararti pangengkaran hubani Naibata, merasa mampu hidup tanpa Allah. Sombong/ angkuh! Keangkuhan adalah ibu dari segala dosa. Laho menangkal panlajouan on, ihatahon Jesus do: Seng bulih lajouonmu Tuhan Naibatamu (Mat. 4:7). Goluh na mangengkari panggilan (sombong, angkuh) cenderung mambahen hita salah menilai diri sendiri. Merasa mampu hidup tanpa Tuhan, janah lang be manghaporluhon Naibata bani goluh on. Bani konteks na sonon ma ipasingat hita marhitei balosni Jesus: Seng bulih lajouonmu Tuhan Naibatamu! Ai ma sikap hidup na menganggap diri dos pakon Naibata. Panggilan ampa sikap hidup na menghamba cenderung mengakui bahasa: tanpa Tuhan saya bukan apa-apa! Tuhan adalah segalanya!

Talu bani panlajouan na paduahon, roh use sibolis melanjuthon panlajouanni na patoluhon. “Iulakkon sibolis ai ma mamboansi hubani pakpak ni dolog na gijang tumang, anjaha ipatuduhkon ma hu-Bani haganup harajaon na i dunia on ampa hasangaponni. Jadi nini ma hu-Bani: Haganupan in hubere pe Bamu, asal ma ra Ham marsombah hubangku” (Mat. 4:8-9). Ijon sihol do sibolis menggeser pengabdian. Berehononni sibolis do harajaon ampa hasangaponni dunia on asal ra Jesus menundalhon Naibata anjaha mengabdi hubani. Kontras pakon hadirionni Jesus na gabe juak-juakni Naibata, na maningon manombah anjaha takluk bani Naibata. Ibalosi Jesus do panlajouan ai marhitei balos: Tuhan Naibatamu do sisombahonmu, sahalaksi do sibalosanmu (Mat. 4:10). Marhitei balos on, itegashon Jesus do bahasa pitah Naibata do sibalosan bani goluh on. Nilai pengabdian jauh melebihi harta pakon kekuasaan. Pengabdian bani Naibata ai do na pagoluhkon. “Ai aha ma gunani bani jolma, age ganup dunia on bani, anggo magou do tonduyni?” (Mat. 16:26).

Martin Luther ongga manghatahon, “Aku tidak dapat mencegah burung terbang di atas kepalaku, tetapi aku dapat mencegahnya supaya tidak bersarang di kepalaku.” Luther manggambarhon bahasa parlajouan sai adong do isekitarta, seng tarolati hita, tapi boi do hita mencengah anjaha marjaga-jaga ase parlajouan ai lang gabe manrajai goluhta. Bani teks on ipataridahkon Jesus do sonaha cara berjaga-jaga anjaha mantaluhon kuasa parlajouan ai. Ipakei Jesus do hagogohonni Hatani Naibata bani haganupan balosNi bani parlajouan na binahenni sibolis. Ijon taridah do hagogohanni Hatani Naibata. Hatani Naibata do na gabe kekuatan laho menghadapi haganup kuasani dunia on na sihol manlajou hita.

Pokok-pokok Renungan Pakon diskusi
1.       Ilajou sibolis do Jesus marhiteihon bagei bentuk pakon cara. Naha do menurut hita bentuk pakon carani sibolis manlajou hita nuan on?
2.       Ganup na itawarhon sibolis hubani Jesus (ruti, habayakon, hasangapon) aima na gati isurahon jolma bani goluh on. Tarlobih bani filosofi Batak 3H (hamoraon, hagabeon, hasangapon). Sonaha do hita mambedahon na ija do parlajouan anjaha na ija do pasu-pasu?
3.       Naha do pengalamanmu pasal hagogohanni Hatani Naibata na gabe sinjata mantaluhon parlajouan?
Pdt. Jonedy Chandra Purba
GKPS Resort Kalimantan Timur

KHOTBAH PERNIKAHAN



Kolose 3:15
Anjaha damei ni Kristus ma manrajai ibagas uhur nasiam, ai hujin do nasiam tardilo gabe sada angkula. Gabe sipartarima kasih ma nasiam.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Seorang Teolog Perancis bernama Theophane Venard, berkesimpulan tentang kebahagiaan dalam keluarga Kristen, demikian: “Kabahagiaan hanya ditemukan di sebuah rumah di mana Allah dikasihi dan dihormati, dimana setiap penghuninya saling mengasihi dan saling menolong serta memerhatikan satu sama lain”

Sebelum sampai kepada kesimpulan tersebut, beliau mengutarakan sebuah cerita demikian:
Ada seorang kaya yang membeli sebuah lukisan bergambar Yesus yang sangat mahal harganya. Lukisan itu sangat indah dan bernilai seni tinggi. Setibanya di rumah, seorang kaya itu mencari tempat yang cocok untuk menempatkan lukisan itu. Tapi ia sangat kesulitan. Rupanya, hampir di setiap sudut dinding rumahnya sudah di gantung berbagai lukisan.

Akhirnya, ia memanggil seorang disigner interior yang handal. Setelah memperhatikan kondisi rumah itu dengan seksama, designer interior itu berkata: “Lukisan ini sangat indah, dan jika dipajang dirumah ini, akan menambah keindahan rumah ini. Tapi, bapak harus rela menyingkirkan beberapa lukisan-lukisan lain, dan menempatkan lukisan ini di dinding utama rumah ini”.

Hita haganupan na hinarga ni Tuhan Jesus Kristus,
Untuk sampai pada keindahan maksimal rumah orang kaya tersebuat ada dua proses yang harus dilakukan: Pertama, Ia harus menanggalkan lukisan-lukisan lain yang telah terpajang sebelumnya. Kedua, setelah itu di lakukan, barulah ia menggantungkan lukisan yang mahal itu di dinding utama. Maka terciptalah suasana baru yang indah.

Hita haganupan,
Pernikahan Kristen bukan sekedar penyatuan dua insan yang berbeda menjadi satu. Tapi juga membangun ruang kehidupan yang indah dan bahagia, dimana Kristus yang menjadi kepalanya.  

Usih songon sahalak na bayak nongkan, ibagas na membentuk ruang kehidupan na indah dan bahagia, ihaporluhon dua tindakan, aima menanggalkan dan melekatkan. Menanggalkan lukisan-lukisan na lama, janah melekatkan lukisan na baru. Sonai ma homa na maningon bahenonta itongah-tongahni keluarganta, ase gabe ruangan na indah janah bahagia keluarganta bei. Halani hujai do hita tardilo gabe sada angkula.

Menanggalkan lukisan-lukisan hidup lama, menaggalkan lukisan-lukisan ego, menanggalkan lukisan perbedaan, janah melekatkan gambar Yesus bani dinding utama rumah tangga. Artini, Gambar Yesus menjadi gambar utama na menghiasi/ na manrajai dinding-dinding pargoluhanta.

Kolose 3:15 on, aima hata ni apostel Paulus hubani Kuria Kolose domu hubani Pesan Hidup Baru, na maronjolan hubani harosuhni Kristus. Hidup baru yang harus bersedia menanggalkan kehidupan lama yang penuh dosa dan mengenakan hidup baru yang diperintah oleh Kristus. Untuk menjadikan kehidupan baru yang bahagia.

Hubani nasiam na dua,
Kalau ditanya saat ini, saudara berdua pasti merindukan bangunan keluarga yang indah dan bahagia. Dalam masa pacaran sebelumnya, tentu banyak lukisan-lukisan hidup yang berbeda diantara saudara berdua. Masing-masing mempunyai lukisan ego-nya, masing-masing memiliki lukisan kehidupan lamanya. Firman Tuhan mengatakan: Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu! Artinya, diperlukan proses penanggalan segala lukisan kehidupan masing-masing dan diperlukan proses melekatkan Gambar Kristus di dalam diri saudara berdua. Karena itulah jalan menuju ruang keluarga yang indah dan bahagia. Tanggalkan Albert dan Dian yang lama (yang hidup dalam ego), tanggalkan perbedaan-perbedaan, dan lekatkan Kristus dalam hati masing-masing.
Dan yang terakhir: Bersyukurlah! Sebab di dalam syukur, kita mampu melihat sisi positif dari segala pasang-surut proses pelekatan Kristus. Amin

Rabu, 20 Februari 2013

Ambilan Minggu Advent I, 2 Desember 2012

Ambilan Minggu Advent I, 2 Desember 2012 
Jeremia 33:14-16 

Hatorangan 
Jeremia aima niombahni Abyatar sahalak malim kopala hun suku Lepi bani panorang Raja Daud (1 Sam. 22:20; 2 Sam. 20:25). Horja hanabionni ipungkah bani panorang haposoon (+ 20 tahun) kira-kira tahun 627 SM i Juda, das hubani na tarbuang bangsa Juda hu Babel bani tahun 587 SM. Bani masa 40 tahun pangidangionni nabi Jeremia, bangsa Juda mengalami pergolakan na hebat. Kerajaan Juda terjebak itongah-tongahni persaingan politik kerajaan Asyur, Masir pakon Babel na sihol manrajai Timur Tengah, termasuk Juda. Pasca pemerintahan raja Josia (na tarbunuh i Megido), Juda membangun persekongkolan politik pakon Masir & Asyur laho menghindari invasi Babel. Persekongkolan on lang pitah mempengaruhi kehidupan politik bangsa Juda, tapi dihut do merambah das hubani goluh parugamaon. Peribadatan hubani dewa-dewa asing (na sebelumni ihancurhon Josia) mulai marak, anjaha panumbahan hubani Naibata gabe itundalhon. 

Bani kondisi on, ipadas Jeremia do uhumni Naibata bani Juda (Raja Zedekia) bahasa ondoskononni Naibata do bangsa ai hubani Babel (Jer. 32:2-3). Gabe manringis ma Raja Zedekia hubani Jeremia anjaha ipamasuk ma ia hubagas tutupan. Bani panorang ambilan on sanggah tartutup do si Jeremia bani ianan ni si parjaga, na ibagas istanani raja ni Juda, ipatutupkon si Zedekia. Tongon, bani tahun 586 SM Nebukadnezar menyerang Juda anjaha mengangkut bangsa ai hu habuangan Babel. Habuangan Babel aima hatatalarni uhumni Naibata bani bangsa na manundalhonSi. Bani bangsa Israel, habuangan usih songaon hamateian, akhir dari segalanya! Tapi lang anggo bani Nabi Jeremia, habuangan sedo ujungni pargoluhan. Itongah-tongahni hagolapan ai, pasti adong titik cahaya. Ai do ase, bani situasi habuangan ai, totap do ipatugah Jeremia padanni Naibata na sihol paluahkon sidea. Jaloonni sidea do haluahon humbani Naibata bani habungan ai. Domu hujai, ipadas Jeremia do bagah-bagah haluahon domu hubani padanni Naibata hubani ompungni sidea (2 Sam. 7:12-16). Ase, marhiteihon pardasni bagah-bagah ai gabe tubuh ma pangarapan bani bangsa ai itongah-tongah situasi pargoluhan na manaron i habuangan. 

Bani ayat 14 isobut do: “Tonggor ma, na roh ma panorangni, pasaudonKu ma ijai bagah-bagah na dob hubahen bani ginompar ni Israel ampa bani ginomparni Juda”. Hunjon boi idahonta bahasa na setia do Naibata bani padanNi. Aha na dob binagahkonni Naibata maningon patalaronNi do bani panorangni. Lang piga dokah nari talar ma haluahon hubani Juda. Hatatalarni haluahon ai ipataridahkon marhiteihonni harohanni sada tumbor na pintor bani si Daud (Ay. 15). Istilah tumbor na pintor martudu-tudu hubani sahalak Mesias (Juru Selamat) humbani ginomparni Daud, na manggomgomi Israel ibagas hasintongan ampa hapintoron (Bdk. Jes. 11:1; Jer. 23:5-6). Anjaha martudu-tudu hubani Kristus sipaluah. Harorohanni Mesias na manggomgomi ibagas hasintongan pakon hapintoron ai mangkorhon konsekwensi positif bani pargoluhanni bangsaNi. Ihatahon bani ayat 16, marhitei panggomgomionNi ai gabe maluah ma Juda anjaha gok hasonangan ma Jerusalem anjaha marmulia ma bangsa na ibagas gomgomanNi. Situasi on ma na sinobut realitas syalom, aima realitas na tubuh hinorhonni kehadiran Mesias.  

Point-Point Aplikasi 
  1. Hal na unik bani pengalaman Jeremia aima hasirsironni manaron halani laho pajongjongkon hasintongan. Keluar dari “zona aman” laho manghopkop hasintongan. Kontras pakon na masa nuan on. Buei do jolma na memilih “zona aman” hansi pe lang be mardalan be ia bani hasintongan (bdk. Flp. 1:21). 
  2. Gati do sitaronon manutup matani paruhuranta laho manatap kesetiaan, keadilan pakon hasintonganni Naibata. Ambilan on pasingatkon hita bahasa seng anjai iporsou Naibata padanNi. Lang ongga lupa Ia hubani bagah-bagahNi. Na roh do holi panorangni banta laho manjalo hagogok ni bagah-bagah-Ni ai, anggo totap hita mambuka matani paruhuranta laho manatap ai. 
  3. Anggo itulimati hita fenomena na terjadi i lingkunganta, hasintongan ampa hapintoron mulai ma gabe barang langka. Tontu, lang be panorangni banta laho marhutuk pasal ai. Domma roh banta Jesus Kristus mamboan banta hasintongan ampa hapintoran in, ase boi hita manggoluh ibagas hasintongan ampa hapintoran. Artini, panjaloanta bani Kristus, ai do na patalubkon hita manghajongjongkon hasintongan pakon hapintoron bani pargoluhan on. In do homa na memampuhon hita gabe agen-agen hasintongan pakon hapintoron i lingkunganta bei. 
  4. Domma roh Tuhanta in janah sihol roh do Ia use bani parroh-Ni na paduahalihon. Halani ai alo-alo hita ma parroh-Ni in ibagas malas ni uhur, marhitei malas ni uhur na gok. Ai na roh do Ia mamboban haluahonta ampa damei banta. Domma roh pardameianta, panorangni ma banta manghagoluhkon anjaha “padalitkon” ai hubani hasoman! Tambahi hita!

Jumat, 26 Agustus 2011

Ambilan & Sibasaon 21 Agustus 2011

Ambilan Minggu 9 Dob Trinitatis, 21 Agustus 2011 Usul Doding: Hal. No: 404:1-2
Matius 7:24-27

Perikop ini adalah penutup dari pengajaran Yesus kepada orang banyak dalam Khotbah di Bukit (Mat. 5-7). Pada bagian sebelumnya, Yesus memberikan pengajaran/firman ketengah-tengah orang banyak sebagai petunjuk hidup bagi orang-orang uang mengikut Dia (Lih. Mat. 5:1-7:23).

Dalam perikop ini Yesus menutup ajaranNya dengan sebuah perumpamaan tentang “Rumah di atas batu dan Rumah di atas pasir”. Untuk mengerti tentang perumpamaan ini baiklah kita memperhatikan iklim di wilayah Palestina, dimana setiap tahunnya ada musim kemarau tanpa hujan sedikitpun (kira-kira Mei-Sept). Pada musim kemarau tanah menjadi keras, sehingga kelihatan seperti batu, dan orang yang bodoh akan mengira dapat mendirikan rumah diatasnya. Tetapi harus juga diperhatikan bahwa di Palestina juga ada musim penghujan yang menurunkan hujan sangat lebat disertai angin ribut. Pada waktu air hujan mengalir dari lereng gunung, maka kemungkinan besar akan menggenangi rumah-rumah. Tanah yang keras tadi akan menjadi lunak dan mengalami erosi sehingga rumah yang dibangunan diatasnya akan rubuh. Lain halnya dengan orang yang bijaksana, ia akan memahami dengan benar mana pasir yang mengeras dan mana batu yang sebenarnya. Ia akan membangun rumah di atas batu yang sebenarnya, sehingga apabila hujan dan badai dating, rumahnya akan tetap kokoh berdiri. Hal pembangunan rumah dalam tradisi Yahudi kala itu sejalan dengan pemikiran tentang konstruksi bangunan pada umumnya. Rumah yang kokoh ditentukan oleh pondasinya. Semakin tinggi bangunan yang dibangun, maka semakin dalam dank eras pulalah pondasi yang diperlukan. Ada relasi sejajar antara bangunan dengan pondasi. Perumpamaan Yesus tentang “Rumah di atas batu dan Rumah di atas pasir” hendak menggambarkan bahwa ada relasi sejajar antara mendengarkan Firman dan melakukannya untuk menuju kehidupan yang kokoh/bahagia (Yun. Makarios).

Kehidupan yang kokoh/bahagia bersumber pada keselarasan mendengar dan melakukan Firman. Ini adalah hal yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Orang yang mendengarkan dan melakukan Firman itu, itulah yang disebut Yesus sebagi orang yang “bijaksana” (Ay. 24), dan dialah yang sampai kepada kebahagian. Sebaliknya, orang yang hanya mendengar tanpa melakukan firman, itulah yang disebut orang yang ‘bodoh’ (Ay. 26).

Dalam cuaca yang tentram, bangunan yang dibangun di atas pasir dan bangunan yang dibangun di atas batu karang akan kelihatan sama persis. Tapi ketika cuaca ekstrim (hujan dan badai) terjadi, maka bedanya akan sangat kelihatan. Demikian pula kita akan melihat perbedaan orang yang menghidupi Firman (mendengarkan dan melakukan) dengan orang yang hanya mendengarkan firman tanpa melakukan. Keduanya akan kelihatan sama-sama berbahagia. Akan tetapi ketika ‘goncangan’ hidup melanda maka perbedaannya akan kelihatan. Orang yang menghidupi Firman akan kuat, akan mampu memaknai ‘goncangan’ itu secara positif, sedangkan mereka yang hanya mendengarkan, akan lemah, mengeluh dan terguncang hidupnya.

Renungan.
1. Mendengarkan dan melakukan Firman Tuhan adalah PAKET yang tak bisa dikompromikan lagi untuk menuju kebahagiaan hidup (hidup yang kokoh). Namun sering kali kita ‘menawar’ paket ini. Mau mendengarkan, tapi tidak siap melakukan.
2. Perikop ini menyaksikan bahwa bangunan hidup yang kokoh didasari oleh kesediaan mendengarkan dan melakukan Firman. Pertanyaan: apa yang menjadi dasar bagi kita/keluarga/gereja saat ini dalam menggapai kebahagiaannya?
3. Ada kecenderungan di tengah-tengah kehidupan dewasa ini bahwa sumber/dasar kebahagian adalah materi dan kekuasaan. Maka, semua berlomba-lomba menggapai materi dan kuasa dengan jalan apapun. Efeknya, timbullah KKN, timbullah manusia yang memangsa sesamanya (homo homini lupus). Perikop ini mengingatkan kita untuk mencoba berfikir lebih baik untuk menilai dan menggapai kebahagiaan.
4. Firman Tuhan adalah kebenaran dan pondasi kebahagiaan. Melalui kebenaran FirmanNya, Allah menuntun kita pada kebahagiaan. Orang yang mendengar dan melakukan Firman itulah orang yang dimerdekakan dari segala kekhawatiran, rasa takut dan pergumulan. Paulus mengatakan, “kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Rm. 6:18). Jadi, identitas kita sebenarnya adalah orang yang merdeka, yakni orang yang mampu menghidupi Firman.


Sibasaon Minggu 9 Dob Trinitatis, 21 Agustus 2011 Usul Doding: Hal. No: 299:1-2
Mazmur 40:9-12

Mazmur ini dituliskan oleh Daud sebagai ungkapan syukur atas karya Allah yang dialaminya dalam hidupnya. Pada ayat-ayat sebelumnya, Daud memamaparkan bagaimana Allah dengan nyata berkarya di tengah-tengah kehidupannya. Sebagai seorang Raja yang berkuasa, adalah hal yang wajar apabila kehidupan Daud diwarnai banyak kesusahan dan beban. Pada Mzm. 40:3 Daud menyaksikan bahwa Allah mengangkatnya dari “lobang kebinasaan”. Lobang kebinasaan adalah gambaran kesusahan hidup yang amat dalam dan merujuk kepada kematian. Tidak hanya itu, Allah juga memberikan nyanyian baru bagi Daud (40:4). Nyanyian baru adalah gambaran berkat atau kebahagiaan yang datang dari Allah. Karya Allah itu membuatnya menjadi kuat, disegani lawan-lawannya dan dihormati masyarakatnya (40:4). Daud benar-benar menyadari bahwa keselamatan, kebahagiaan dan kehormatan yang ada padanya sepenuhnya adalah karya Allah dalam hidupnya. Karya Allah yang merupakan buah kepercayaan dan kesetiaannya (40:5-6).

Karya Allah yang dirasakan oleh Daud menumbuhkan komitmen iman dalam dirinya untuk lebih setia terhadap Allah. Komitmen iman Daud tersebut terwujud dalam perikop khotbah ini:

1. Menjadi Pelaku Firman (40:6)
Dalam bagian ini Daud mengungkapkan sebuah komitmen iman “suka melakukan kehendak-Mu”. Daud melakukan kehendak didorong oleh rasa suka/cinta terhadap kehendak Allah, bukan karena aturan-aturan yang memaksanya. Mengapa ada kesukaan/kecintaan Daud melakukan kehendak Allah? Karena Firman (Taurat) ada dalam hatinya. Firman yang mendiami hati dan dirinya menggerakkan dirinya melakukan kehendak Allah.

Ayat ini hendak memberitakan kepada kita bahwa kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan ditentukan oleh keberadaan Firman dalam hati kita. Ketika Firman mendiami diri, disitu pulalah ada kemauan dan kemampuan melakukan kehendak Allah.

2. Bersaksi Secara Universal (10-11)
Kesadaran Daud pada karya Allah yang menaungi kehidupannya tidak hanya menuntunnya untuk menjadi pelaku Firman. Lebih jauh, kesadaran itu menuntun gaya hidupnya menjadi gaya hidup yang bersaksi. “Aku mengabarkan keadilan…tidak kutahan dalam bibirku…” (40:10), “keadilan tidaklah kusembunyikan…kesetiaanMu dan keselamatan dari padaMu kubicarakan…” (40:11) menggambarkan kehidupan Daud yang menyaksikan karya Tuhan dalam sikap hidupnya sebagai raja Israel kala itu. Ia menyuarakan keadilan, bahkan ia sendiri tak mampu menahan dirinya untuk tidak menyuarakan keadilan itu. Selanjutnya, kesaksiannya itu disampaikannya dalam “jemaah yang besar”. Jemaah yang besar, adalah gambaran universalitas. Jadi, Daud tidak hanya menyaksikan karya Tuhan secara ‘lokal’ (Israel saja), tapi juga secara ‘global’ kepada bangsa-bangsa.

Ayat ini menyaksikan kepada kita bahwa kehadiran umat Tuhan saat ini diharapkan menjadi umat yang bersaksi kepada seluruh dunia. Memberikan sukacita bagi orang-orang disekitarnya. Memberikan “efek sukacita” dimana dia berada. Mari kita renungkan: Apakah kehadiran Gereja dan kita saat ini sudah member “efek sukacita” bagi orang-orang disekitar kita???

3. Senantiasa Berharap Pada Kekuatan Kasih dan Rahmat Tuhan (40:12).
Daud menyadari betul keterbatasannya sebagai manusia. Ia sadar bahwa ia senantiasa berada dalam keterbatasan. Kesadaran itu menuntunnya untuk senantiasa berharap pada kekuatan dan kasih Tuhan. Memang, adalah hal yang sulit untuk terus berdiri sebagai pelaku Firman dan bersaksi ditengah-tengah dunia yang diwarnai godaan dan pergumulan. Kesaksian Daud pada ayat ini mengingatkan kita bahwa ketergantungan pada kasih dan kekuatan dari Tuhan akan membuat kita menjadi lebih kuat. Tentu, itu semua akan nyata dalam relasi yang intim dengan Tuhan. Dalam keintiman itulah kekuatan dan kasih Tuhan akan nyata. Daud hanya bersandar dan berharap pada kasih dan rahmat Tuhan, bukan kepada kekuatan lain. Ia tidak mencari kekuatan alternativ.

Ayat ini mengingatkan kita pada sebuah pilihan yang benar untuk menumpukan harapan. Pilihan yang tepat untuk menolong kita untuk mampu terus berdiri sebagai pelaku firman dan pelaku kesaksian