Selasa, 19 Oktober 2010

ANDA DITOLAK?

Penolakan, baik dalam bentuk kata-kata maupun tindakan adalah pengalaman yang selalu dihindari setiap manusia. Memang, penolakan adalah sebuah pengalaman yang membuat kita merasa tidak nyaman, kecewa bahkan membuat kita kadang merasa tidak punya arti apa-apa. Apa lagi penolakan itu justru berasal dari orang-orang yang sangat kita cintai atau orang-orang terdekat. Orang-orang yang kita cintai atau orang-orang terdekat yang dalam harapan kita menjadi teman dikala kita susah, menjadi penopang dikala kita jatuh, kadang terasa menjauh. Dalam situasi ini kepahitan pasti akan melanda perasaan kita.

Sabar! Kita bukanlah orang pertama yang mengalami penolakan. Alkitab mencatat seorang tokoh yang mengalami penolakan yang sangat ekstrim. Tokoh yang dimaksud adalah Yusuf, anak bungsu Sang Founding father nya Israel. Ia ditolak, bahkan dibenci oleh saudara-saudaranya. penolakann dan kebencian itu bermuara pada sikap ekstrim saudara-saudaranya yang menjualnya sebagai budak ke negeri yang tidak mengenal Allah. Penolakan dan kebencian yang diterima oleh Yusuf membuat ia terlempar jauh dari keluarganya dan terpaksa bertaruh nasib dengan beratnya realitas hidup ditempatnya.

Penolakan yang terjadi pada kita sering kali membuat kita hancur dan kehilangan arah iman. Membuat kita seolah tak punya arti dalam kehidupan ini, yang pada akhirnya bermuara pada tumbuhnya akar pahit (kekecewaan, kebencian & dendam) dalam diri. semuanya itu tumbuh akibat sikap kita yang menyimpan kebencian dan dendam pada orang-orang yang menolak kita. Namun tidak demikian dengan Yusuf. Walau penolakan yang diterimanya sangat luar biasa besarnya, namun dia tidak membiarkan sedikitpun akar kebencian dan dendam tumbuh subur dalam hatinya.

Sikap Yusuf yang tidak membiarkan kebencian dan penolakan tumbuh subur dalam dirinya terlihat dikala musim kelaparan melanda bumi, termasuk Israel kala itu. Saudara-saudara Yusuf yang menolaknya, datang menemui Yusuf dengan satu misi "mendapatkan makanan bagi keluarga mereka". Kala itu, Yusuf yang telah menjadi "orang nomor dua" di kerajaan Mesir, memperlihatkan belas kasihan yang luar biasa. Saudara-saudara yang menolaknya justru dilayani dengan sangat baik. Tidak hanya dicukupinya dengan makanan, tapi semua mereka diajak untuk pindah ke Mesir agar terhindar dari bahaya kelaparan. Jelas melalui pengalaman Yusuf, terjadi sikap teologis menanggapi penolakan. Tidak membiarkan kebencian dan dendam mengakar dalam hati, tetap menjalin kebersamaan dengan Tuhan, dan menerima keadaan tertolak dan sipenolak dalam kasih yang besar...

"Tidak membiarkan kebencian dan dendam mengakar dalam hati, tetap menjalin kebersamaan dengan Tuhan, dan menerima keadaan tertolak dan sipenolak dalam kasih yang besar..." Inilah yang menjadi resep mujarap yang dipraktekkan Yusuf dalam menghadapi penolakan. Tentu itu bukanlah hal yang mudah untuk kita, tapi bukan pula suatu hal yang tidak mungkin. Kristus telah mengampuni kita dari segala penolakan yang kita perlakukan kepada-Ny, trus, apa alasan kita tidak mau mengampuni???? Jangan membiarkan kebencian dan dendam tumbuh subur karena itu akan membuat kita rugi dan tetap sakit... Ampunilah, karena Yesus telah mengampuni kita...

Mengampuni, mengampuni lebih sungguh...
Mengampuni, mengampuni lebih sungguh...
Tuhan lebih dulu mengampuni kepadamu..
Mengampuni, mengampuni lebih sungguh...


Inspirated By: Gen. 42-47
ITB (Idop i Toruh Buluh), Sirp. Sigodang, 29 Juli 2010

AKU TAHU YA TUHAN.....

Suatu sore, seorang petugas mercu suar menaiki anak tangga dengan sebuah lilin di tangan kanannya. ia menapaki anak tangga satu demi satu. sementara menapaki tangga, si lilin kecil bertanya kepadanya, "mau kemana kita Pak?". "Kita akan naik ke punca menara mercu suar ini dan akan memberi petunjuk kepada kapal-kapal yang sedang berlayar di lautan lepas" jawab petugas itu ketus. si lilin kecil terkejut, "memberi petunjuk bagi kapal-kapal? Mana mungkin, ah bapak sudah gila ya?" balas si lilin kecil. "Itu bukan urusanmu! Hal yang harus engkau lakukan adalah berusaha tetap menyala sampai kita sampai ke puncak menara, selanjutnya aku yang urus" jawab si petugas mercu suar itu. Ketika sampai di puncak menara, ternyata sudah terdapat sebuah lampu besar dengan sebuah kaca pemantul dibelakangnya. Kemudian si petugas menyalakan lampu besar tadi dan dalam waktu sekejab puncak menara itu pun menjadi terang benderang, sehingga kapal-kapal itu dapat melihat terangnya dan dengan demikian semua kapal mendapat petunjuk dalam pelayarannya...

Itulah si lilin kecil. Dengan daya pikir, kemampuan dan segala keberadaannya ia mencerna setiap proses yang dia jalani. Dengan daya nalarnya dia berusaha membaca alur pikir sang petugas mercu suar. Dengan kemampuan akalinya ia menyimpulkan apa yang akan terjadi dalam langkahnya di kemudian hari. Dengan segala keberadaan yang ada padanya dia sampai kepada satu kesimpulan hidup "tak mungkin".

27 Tahun silam, lilin kecil itu hadir ke dunia. Dia memang memiliki sinar, dia memang memiliki daya untuk memperlihatkan sinar itu. Tapi sinar dan daya itu adalah sinar dan daya yang terbatas. Yang sewaktu-waktu dapat saja habis dan sirna. Tapi, dalam segala keterbatasan itu, dengan keangkuhannya dia mencoba menembus jalan Pikiran Sang Petugas Mercu suar. Dalam segala keterbatasannya itu, kesombongannya sering kali menanjak dan mencoba menjangkau menyingkap rencana Sang Petugas Mercu suar terhadap dirinya. Dan ketika keangkuhan dan kesombongan itu ambruk, dengan lantangnya ia katakan "Tidak Mungkin"

Ya, si lilin kecil yang sering sekali lupa, bahwa hidupnya berada dalam genggaman Sang Petugas Mercu suar. Ia lupa bahwa dirinya sepenuhnya berada dalam kekuasaan Sang Petugas Mercu suar. Sesekali, ketika ia terlalu banya komentar, Sang Petugas Mercu suar bisa saja melemparkannya ke tengah lautan dan mati tanpa jejak. Ia sering sekali lupa, bahwa Sang Petugas Mercu suar bisa saja memakainya menjadi penerang jalan menuju penggenapan sinar yang benderang. Ya, itulah si lilin kecil yang berusaha melihat dan menilai maksud dan rencana Sang Petugas Mercu Suar dengan kemapuan dirinya, dan ia lupa atas kuasa Sang Petugas..

TUHAN... Aku sadar

Akulah si lilin kecil yang angkuh dan sombong itu. Dalam segala keterbatasanku, aku sering kali mencoba menjangkau masa depan tanpa terlebih dahulu menerima tuntunanMu. Dengan segala kesombonganku, aku sering menjadi penata kehidupan tanpa melibatkan jamahan tanganMu. Dan ketika aku jatuh, terkulai, lemah dan tak berdaya, ku katakan "tak mungkin" itu semua bisa terjadi. Aku sering sekali lupa bahwa Engkaulah Sang Pemilik, penata sekaligus penguasa kehidupan ini.

Ya Bapa, 27 tahun telah Kau berkati perjalanan hidupku. Si lilin kecil yang angkuh, sombong dan mengandalkan kemampuan diri. Aku mau seiring bertambahnya usia yang Kau berikan, bertambah pula kemauanku untuk semakin mengkerdilkan kesombongan dan keangkuhan itu dalam diri ini, semakin membiarkan karya dan kuasaMu berperan dan merajai. Ya Tuhan.. Biarlah melalui berkat yang Kau berikan saat ini, aku semakin sadar akan hadir dan kuasaMu dalam setiap langkah hidupku. Biarlah dengan semua itu ya Tuhan aku semakin mampu memaknai misteri hidup dan memecahkannya bersamaMu..

Terima kasih ya TUHAN buat berkat yang luar bisa ini. Terima kasih buat kesempatan yang Kau berikan bagiku untuk memberikan secercah sinar bagi jemaatMu melalui pelayanan yang Kau berikan bagiku. Murnikan dan putihkan setiap sisi diri ini dalam menjalankan amanah ini. Dan aku yakin, KaryaMu yang akan menguatkan, memampukan dan memberi pertumbuhan dan buah yang manis...

"Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya" (Yer. 10:23)

AKU PUNYA DIA...

Dalam diam kubermenung

Mencoba kembali pada setiap jejak langkah yang pernah ditapi oleh kaki ini

Ya, walau aku sendiri sadar bahwa tak semua jejak itu masih menyisakan bekas.

Tetap saja sedaya mampu pikiranku, terus ku coba bermenung



27 tahun silam.. Ya, data berbicara bahwa pada saat itulah

Allahku menghadirkan ragaku sebagai salah satu pengisi bumi.

Entah apa maksudNya.. aku juga tak tau

Yang pasti, saat itu aku ada



Waktu berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan

Raga kecil pun beranjak tumbuh

Anak-anak, remaja, dan dewasa

Kecil, beranjak besar dan terus bertumbuh



Banyak kisah yang berlalu mengisi setiap waktu

kadang berakhir pilu, tapi tak jarang pula berujung dengan senyum yang syahdu

Banyak jalan yang mengisi ayunan langkah

Kadang gontai, kadang gagah berderap

Banyak alunan harmoni kehidupan mengisi ruang pendengaran

Kadang mendayu dan membuat hati tersipu, tapi tak jarang berguncang bak genderang perang yang memekakkan.

Ribuan sentuhan melekat disisi indra peraba

Kadang membuat lelap, kadang pula membawa pada keniscayaan, tak berasa

Ribuan goresan kisah kehidupan menghampiri pandangan

Kadang membuat ceria, tapi sering juga berujung duka dan fatamorgana

Hidup penuh warna dan nuansa..



Hidup dan kehidupan akan melaju, tanpa ada yang mampu menghalangi

Penuh warna dan nuansa

Aku pun takluk dan tak punya daya

Tapi aku tau, aku punya Dia

Yang mampu memberi warna dan nuansa

Sehingga hidup dan kehidupan jauh lebih bermakna



Ya, Dia sang pemberi dan penguasa kehidupan

Ku tak perduli apa rasa angin kehidupan yang akan menerpaku

Aku tak perduli apa warna kehidupan yang menghampiriku

Aku tak perduli apa akhir dari setiap langkah kakiku

Karena aku tau...

Aku punya Dia yang akan selalu membentengiku

Aku punya Dia yang selalu menghiasi hidupku

Aku punya Dia yang selalu melindungi dan menuntun setiap langkahku

Sehingga hidupku bernuansa, berharmoni dan penuh melodi yang menghangatkan hati





Terima kasih ya TUHAN

Buat karyaMu 27 tahun yang silam

UNTUKMU YANG TERLUKA, MENDERITA DAN BERPELUH..

Mutiara... Ya, semua kita pasti mengenal atau paling tidak tau benda ini. Salah stu batu mulia yang sangat indah, yang karena keindahannya ia sangat berharga dan bahkan hanya menjadi milik orang-orang tertentu saja. Mutiara didapatkan dari kerang mutiara yang sebelumnya tercipta dalam proses yang cukup panjang. Walau saat ini sudah banyak budi daya yang dilakukan untuk mempersingkat proses itu dengan tidak menghilangkan kualitasnya.



Tapi taukah anda, dalam budi daya kerang mutiara dewasa ini, untuk mendapatkan mutiara yang indah dengan waktu yang relatif singkat, biasanya petani kerang mutiara memasukkan butiran-butiran pasir ke dalam tubuh kerang-kerang mutiara. Butiran-butiran pasir itu akan membuat kerang mutiara merasa kesakitan, sehingga ia mengeluarkan cairan yang pada akhirnya menyelubungi pasir-pasir itu. Beberapa waktu kemudian, muncullah butiran-butiran mutiara yang indah dan mahal seperti yang kita kenal. Tubuh kerang mutiara yang kesakitan, terluka, mengeluarkan cairan yang mampu menjadikan butiran-butiran pasir yang tak berharga menjadi luar biasa harganya.



Sering kali dalam kehidupan ini kita diperhadapkan dengan butiran-butiran persoalan yang menyulitkan bahkan menyakitkan. Kadangkala karena butiran-butiran pergumulan itu, kita terpaksa harus mengeluarkan tetes-tetes peluh dan air mata. Bahkan tidak jarang lebih dari itu, karena butiran-butiran pergumulan itu kita merasa hancur dan tak berarti. Sebagai orang percaya, lantas apa yang harus kita lakukan???



Lewat pengalamannya di pulau Patmos, Rasul Yohannes mengungkapkan "Barang siaoa yang Kukasihi, ia Kutegor dan kuhajar; Sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah (Why. 3:19). Dalam suratnya ini, Yohannes mengungkapkan bahwa ada kalanya Allah menegor dan menghajar orang yang dikasihinya. Tentu teguran dan hajaran ini bukan dalam rangka proses pematian, tapi dijelaskan selanjutnya bahwa tegoran dan hajaran itu diharapkan bermuara pada mempersembahkan hati dan pertobatan. Artinya, Ia menegor dan menghajar supaya orang yang dikasihiNya berbalik dan semakin dekat denganNya. Menjadi pribadi yang berharga seperti mutiara. Dalam hal ini Yohannes menggambarkan Allah bak seorang petani kerang mutiara. Ia menaruh pasir-pasir pergumulan, kesusahan bahkan penderitaan supaya kita berbalik dan semakin dekat denganNya. Adakalanya, ia harus membuat kita meneteskan air mata untuk memunculkan pribadi yang berharga mahal.



Fanny Jane Crosby (1820-1915) seorang penulis lagu yang buta sejak usianya 6 Minggu juga menuliskan pengakuannya akan kebaikan Tuhan dalam hidup yang kadang dihiasi tangis dan peluh yang saat ini dapat kita lihat dalam KJ. No. 408. Diakuinya bahwa "suka dan duka dalam hidup ini dipakai Tuhan untuk kebaikan manusia". Allah bak seorang petani Mutiara yang meneruh pasir-pasir pergumulan dan kesusahan yang menyakitkan agar kita mengeluarkan mutiara.



Pembaca yang mulia, mungkin saat ini Anda berada dalam masa-masa sulit dalam hidup Anda. Mungkin juga saat ini Anda merasa sebagai pribadi yang paling terluka, entah itu karena ditinggalkan orang yang Anda kasihi, dihianati kekasih, kehilangan pekerjaan, atau apapun itu. Firman Tuhan menggugah kita untuk melihat kenyataan itu dalam dimensi yang baru. Luka itu bukanlah akhir dari segalanya. Kesusahan itu bukalah titik akhir dari kehidupan Anda. Kenyataan itu bukan berarti kematian bagi masa depan Anda. Mari melihat kesemuanya itu dengan kaca mata baru. Seperti Rasul Yohanes dan Fanny Jane Crosby yang melihat situasi yang berat dalam hidupnya sebagai cara Allah menjadikan dirinya Mutiara, demikianlah hendaknya kita melihat setiap persoalan berat dan kesusahan dalam hidup ini. Itu merupakan kebaikan dan Kasih Tuhan dengan maksud untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Dibalik air mata yang muncul lewat kesusahan yang Anda alami akan muncul mutiara-mutiara yang indah. Kasih Tuhan memungkinkan setiap kesakitan yang kita alami berubah menjadi sukacita dan tawa ria. Oleh karena itu, relakanlah hatimu dan bertobatlah! inilah yang menjadi kunci! dengan itu, Air mata akan menjadi mutiara...

CINTA, BAHAGIA, SUKA CITA, NUANSA DAN MAKNA

Dalam diam ku bemenung mencoba menggapai masa

Jauh dalam selubung waktu

Walau ku sadar itu bukanlah sebuah keniscayaan

Tapi tetap kucoba 'tuk terus bermenung



Aku tau masa yang ingin 'ku gapai itu masih sebuah misteri

Aku tau tiada keniscayaan di dalamnya

Aku tau masa itu juga walau dengan segala asa tuk mencapai

Ya.. Itu akan tetap menjadi misteri dan ke-nir-niscayaan



Ku lanjutkan permenunganku menuju masa itu...

Sebuah masa dimana seribu harap menaunginya

Sejuta ingin menyelimutinya

Segudang kerinduan menghiasinya

Secercah pinta senantiasa menghiasinya



Malam ini, sang buah cinta meminta kepada Sang Khalik, Sang pemilik keniscayaan

Biarlah pada masa yang dinaungi seribu harap itu,

Sang buah cinta mampu memberi cinta

Biarlah pada masa yang diselimuti ingin itu,

Sang buah cinta mampu memenuhi sejuta asa pemeluh dahaga bahagia

Biarlah pada masa yang dihiasi segudang kerinduan itu,

Sang buah cinta mampu menjadi media suka cita

Biarlah pada masa yang senantiasa dihiasi secercah pinta,

Sang buah cinta mampu hadir mengiasi sebuah nuansa dan makna...

Cinta, bahagia, suka cita, nuansa dan makna

Untuk menjadikan aku, dia, kami, dan mereka hidup dalam hidup yang lebih hidup..



Dalam yakin yang adalah keniscayaan,

Cinta, bahagia, suka cita, nuansa dan makna 'ku serahkan pada-Nya

Sang pencipta dan pemilik segalanya.

Dalam yakin yang adalah keniscayaan,

Ku mohon kuasa dan daya..

Semuanya 'ku sampaikan terbungkus harap dalam doa dan syukur yang terucap

CINTA, BAHAGIA, SUKA CITA, NUANSA DAN MAKNA


Dalam diam ku bemenung mencoba menggapai masa

Jauh dalam selubung waktu

Walau ku sadar itu bukanlah sebuah keniscayaan

Tapi tetap kucoba 'tuk terus bermenung



Aku tau masa yang ingin 'ku gapai itu masih sebuah misteri

Aku tau tiada keniscayaan di dalamnya

Aku tau masa itu juga walau dengan segala asa tuk mencapai

Ya.. Itu akan tetap menjadi misteri dan ke-nir-niscayaan



Ku lanjutkan permenunganku menuju masa itu...

Sebuah masa dimana seribu harap menaunginya

Sejuta ingin menyelimutinya

Segudang kerinduan menghiasinya

Secercah pinta senantiasa menghiasinya



Malam ini, sang buah cinta meminta kepada Sang Khalik, Sang pemilik keniscayaan

Biarlah pada masa yang dinaungi seribu harap itu,

Sang buah cinta mampu memberi cinta

Biarlah pada masa yang diselimuti ingin itu,

Sang buah cinta mampu memenuhi sejuta asa pemeluh dahaga bahagia

Biarlah pada masa yang dihiasi segudang kerinduan itu,

Sang buah cinta mampu menjadi media suka cita

Biarlah pada masa yang senantiasa dihiasi secercah pinta,

Sang buah cinta mampu hadir mengiasi sebuah nuansa dan makna...

Cinta, bahagia, suka cita, nuansa dan makna

Untuk menjadikan aku, dia, kami, dan mereka hidup dalam hidup yang lebih hidup..



Dalam yakin yang adalah keniscayaan,

Cinta, bahagia, suka cita, nuansa dan makna 'ku serahkan pada-Nya

Sang pencipta dan pemilik segalanya.

Dalam yakin yang adalah keniscayaan,

Ku mohon kuasa dan daya..

Semuanya 'ku sampaikan terbungkus harap dalam doa dan syukur yang terucap







Jumat, 13 Agustus 2010

Suluh Keluarga, Minggu, 5 September 201

KEBERSAMAAN PAKON KRISTUS DO NAPATALUPKON HITA MARPAMBAHENAN NA MADEAR DOMPAK HASOMAN

Dob ai marsahap ma si Petrus, nini ma, “domma tangkas ididah uhurhu, na so sididah bohi Naibata”
Lahoan ni Apostel 10:34


Salah sada identitas bangsa Indonesia aima “Bhineka Tunggal Ika”, na mararti berbeda-beda tapi tetap satu jua. Merhitei pengakuan on, taridah do bahasa bangsanta on mangakui bahasa perbedaan aima sada realitas na lang boiiparnalang hita. Berbeda-beda di tongon hita. Na gabe persoalan, sonaha do na sikap na maningon ipataridahkon hita menanggapi realitas perbedaan on?
Lape magou hombani pardingatta kejadian bani Minggu, 8 Agustus 2010 na salpu i HKBP Pondok Indah Timur Bekasi, aima aksi kekerasan na bernuansa SARA. Terlepas humbani persoalan ise na salah pakon ise na sintong, tapi kenyataan on pataridahkon bahasa lape boi hita bersikap dewasa bani realitas perbedaan na idompakkon hita. Fanatisme na sempit anjaha haporsayaon na eksklusif, on do na ipakei hita mandompakkon keadaan na berbeda ai. Al hasil, konflik, bentrok bahkan kerusuhan pe terjadi ma.
Paima teks renunganta on, ididah hita do kenyataan perbedaan ai marhitei relasi Petrus pakon Kornelius. Petrus aima bangsa Jahudi anjaha si Kornelius aima halak non Jahudi na hun Kaisarea. Tapi perbedaan ai lang gabe tembok na manirang sidea, tarlobih bani horja na madear. Marhiteihon parjumpahan Petrus pakon Kornelius, ipataridahkon Naibata sada sikap na talup bahenonta ibagas na mandompakkon perbedaan. Bani ayat 28 ihatahon: “… domma ipatuduhkon Naibata bangku, na so bulih goranon halak butak atap lang borsih…”. Naibata do na marhorja ibagas Petrus pakon Kornelius. Rap pakon Kristus do relasi ni sidea. Kebersamaan pakon Kristus, ai do langkah awal boi sidea marpambahenan na talup bani halak na legan. Kebersamaan ni pakon naibata do na patalupkon ia mangidah sisi positif bani hasomanni. Aido na mambahen ia lang mendiskreditkon, janah mangahapkon hahurangan ni hasoman sedo hitei laho margijang ni uhur. Kebersamaan Kristus, ai do na patalupkon ia mangarusi aha na pinangindio Naibata hubani jolma ibagas relasini pakon hasomanni.
Sikap na maningon ipataridahkon hita ibagas na menaggapi realitas perbedaan aima sikap na memaknai kebersamaan pakon Kristus. Kebersamaan pakon Kristus taridah marhiteihon ni goluh na gok holong (Mat.22;37-40). Bani Galatia 2:20 ihatahon bahasa halak na manggoluh ibagas kebersamaan pakon Kristus lang be manggoluh ibagas hasaparion, tapi Kristus do na marianan ibagas ia. Janah Apostel Paulus pe manghatahon halak na manggoluh ibagas kebersamaan pakon Kristus, aima na manggoluh ibagas kesempurnaan titah (Rom. 13:8). Kebersamaan pakon Kristus ai taridah ibagas pambahenan na lang mangkorjahon na jahat bani hasoman (Rom. 13:8,10). On ma homa na gabe gaya hidup na ipataridahkon Petrus pakon Kornelius bani hasadaon ni sidea itongah-tongahni perbedaanni. Ase, marhitei renungan on, ipagolpa do hubanta ase totap manggoluh ibagas kebersamaan pakonSi, ase iarusi hita aha pinangindoni hubanta bani relasinta pakon hasoman, tarlobih bani perbedaan. Pambahenan na hinarosuhkonNi do na sihol idahonNi humbani jolma. Sedo asal-usul, status, habayakon, pnl. Halani so sididah bohi Naibata.

Tonggo: Ajari anjaha pargogohi Ham ma au ale Tuhan, ase rap pakon Ham totap goluhkon. Ase huarusi aha na pinangindoMu bani goluhku. Amen


GKPS Resort Sirpang Sigodang

Suluh Keluarga, Minggu, 3 Oktober 2010

Seng ongga isogami jolma dagingni, tapi iparmudu-mudu anjaha isarihon do ai, songon pambahenan ni Kristus bani kuriain, ai pagori ni angkula-Ni do hita.

(Efesus 5:29-30)

HOLONG NA MAMBAHEN KELUARGA GABE ISTANA NA GOK MALAS NI UHUR

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara yang paling indah adalah keluarga.

On ma penggalan syair soundtrack sinetron na amear bani era 90-an na marjudul “Keluarga Cemara”. Sinetron on menceritahon situasi sada keluarga sederhana na harmonis, na memang pataridahkon situasi songon na bani soundtrack ai. Keluarga, institusi na paling berharga, indah, anjaha penuh makna. Ya, memang ai ma keluarga! Sebagai institusi na paling berharga, indah janah penuh makna, tontu maningon do ihiasi hal-hal na madear, ihiasi holong, pakon hadameion.

Tapi, anggo itulimati hita na masa nuan on domu hubani keberadaan keluarga, buei do idahonta fakta bahasa keluarga lang be gabe institusi na maharga, indah anjaha penuh makna. Buei do keluarga nuan on na gabe arena praktek kekerasan, ring tinju pakon arena mempraktekkon kekejaman. Artini, keluarga lang be gabe arena pataridahkon holong. Mase ihatahon sonai? Fakta na ilansir Yayasan Jurnal Perempuan manghatahon, bani tahun 2005 kasus KDRT, mencapai 16.709 kasus atau 76%, Temuan on ipadas Ketua Komnas Perempuan Kemala Chandrakirana dalam Catatan Tahunan tentang Kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2006. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia sepanjang tahun 2007-2008 meningkat 100 persen menjadi 50.000 kasus, dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 25.000 kasus. Anjaha fakta on torus do meningkat dari tahun ke tahun. Sungguh memprihatinhon! Tontu adong do akar persoalan na maningon ituntaskon hita bani kenyataan on.

Bani teks renungannta ihatahon: Seng ongga isogami jolma dagingni, tapi iparmudu-mudu anjaha isarihon do ai, songon pambahenan ni Kristus bani kuriain, ai pagori ni angkula-Ni do hita.(Ef. 5:29-30). Tongon, seng dong jolma na sogam bani dagingni anjaha tongtong do isarihon do dagingni. Seng dong halak na lang manghaholongi dagingni, harga do bani angkulani. Ai do ase marpala-pala jolma memperindah anjaha mempercantik dirini. In ma bukti holong ai. Keluarga Kristen, maningon do gabe arena praktek holong, usih songon jolma na manghaholongi dagingni. Relasi antar anggota keluarga pada dasarni maningon ibangun ibagas holong na sonai ai. Relasi anti sogam, relasi na marmudu-mudu, relasi na sari bani na legan. Kesempurnaan relasi ai aima songon pambahenan ni Kristus bani kuria-Ni. Na sirsir mamberehon na terbaik, bahkann mamberehon hosah-Ni.

Akar persdoalan KDRT domu hubani teks renunganta aima minimni holong anta anggota keluarga. Holong antara bapa pakon inang mulain minim, holong antara orang tua pakon niombah per oh borgohni. Halani ai,merhitei renungan on, iarahkon do hita secara tegas ase mulak hubani holong ai. Holong ai do na pataluphon bapa lang marsogam ni uhur bani inang, holong ai do na mangojur orang tua totap marmudu-mudu niombah, holong ai do homa na mambahen samah anggota keluarga saling sari (memperhatikan, peduli). Mari mempraktekkon holong itongah-tongahni keluarganta!!!

Tonggo: Ale Tuhan Naibata, ajari anjaha pargogohi Ham ma hanami gabe pribadi na marsihaholongan itongah-tongahni keluarga. Ase gabe usihan-Mu keluarga nami on. Amen.

GKPS Resort Sirpang Sigodang

Senin, 27 April 2009

Turut memeriahkan Tahun Keluarga GKPS 2009

RUMAH TANGGA KRISTEN:

“DUNIA KECIL” YANG BERIBADAH

Oleh: Jhonedy Chandra Purba, S.Th

Pemuda GKPS Jl. Binjai Km. 7 Medan Resort Medan Barat

1. Rumah Tangga Adalah “Dunia Kecil” : Sebuah Pengantar

Banyak pandangan yang mencoba memberikan analogi tentang sebuah Rumah Tangga atau Keluarga. Analogi ini mungkin saja dimaksudkan untuk memperjelas pemahaman tentang apa itu Rumah Tangga, apa fungsi dan hakekatnya, atau mempertegas hal lain yang berkaitan dengan rumah tangga itu sendiri. Dalam tulisan ini saya mencoba menganalogikan Rumah Tangga Sebagai “Dunia Kecil”.

Rumah tangga adalah sebuah “dunia kecil”. “Dunia kecil” di mana seorang anak mulai lahir, tumbuh dan berinteraksi dengan dunia nyata, sebelum ia melangkah masuk ke dalam dunia nyata lebih besar dan lebih kompleks. Di “dunia kecil” inilah seorang anak mulai menapakkan langkahnya menjalani kehidupannya. Tempat ia mulai mengucapkan kata yang pertama sekali keluar dari mulutnya. Tempat di mana ia mulai mendengar kata-kata lewat telinganya. Tempat ia mulairangkaian kehidupannya. Singkatnya “dunia kecil” di mana ia melakukan setiap gerak-gerik kehidupannya secara perdana.

Dalam sebuah “dunia kecil”, seorang anak berinteraksi dengan individu yang ada di dalamnya. Interaksi itu mengharuskannya untuk berhadapan dengan realitas yang ada dalam lingkup rumah tangga itu. Sebagai “dunia kecil”, rumah tangga membawa pembelajaran baru bagi seorang manusia untuk melangkah masuk ke dalam dunia yang lebih besar, yakni masyarakat. Di rumah tangga seorang anak dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan untuk survive dalam dunia yang lebih besar yang mau tidak mau harus dia hadapi. Singkatnya, rumah tangga adalah “dunia kecil” di mana seorang anak dibekali untuk survive dalam interaksi kehidupannya.

2. “Dunia Kecil” Itu Diwarnai Interaksi dan Masalah.

Rumah tangga dibentuk oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berbeda dalam berbagai aspek (Mis. Latar belakang, budaya, pendidikan, karakter, pola pikir, sosioekonomi, dll). Pribadi yang berbeda itu, kemudian dipersatukan dalam wadah perkawinan dan dikukuhkan secara agamawi dan hukum. Paska perkawinan, pribadi yang berbeda itu juga harus terus mangadakan penyesuaian (interaksi) dalam rangka saling melengkapi dan menerima dalam rangka mencapai visi bersama. Melalui penyesuaian itu, diharapkan perbedaan yang ada menjadi suatu yang melengkapi dan harmonis.

Setiap orang yang membentuk rumah tangga baru pasti menginginkan kondisi yang harmonis. Semua pasti bercita-cita untuk menjadi sumber kebahagiaan bagi anggota rumah tangga yang lain. Semua cara dan upaya dilakukan. Tapi kadangkala hal yang kontras justru terjadi di tengah-tengah rumah tangga itu. Sesekali timbul hal-hal yang menggangu harmonisasi hidup rumah tangga. Harmonisasi hidup yang diupayakan melalui interaksi kadangkala terganggu oleh pergumulan hidup yang dijumpai. Rumah tangga yang diharapkan sebagai wadah pembentukan yang efektiv justru berubah menjadi “tempat empuk” untuk meluapkan ketidakpuasan yang dialami akibat pergumulan hidup. Akhirnya hidup rumah tangga yang diharapkan (harmonis) berubah menjadi “Tempat Pembuangan Akhir” (TPA) ketidakpuasan. Sehingga interaksi di dalamnya diwarnai interaksi yang sarat dengan “ego dan kekuasaan”. Rumah tangga menjadi tempat pembentukan yang diwarnai oleh interaksi dan masalah. Sebagai wadah pembentukan, rumah tangga diharapkan mampu memanajemen setiap interaksi dan masalah yang ada di dalamnya secara positif untuk membangun sikap positif pula. Cara pandang dan manajemen interaksi dan masalah yang terjadi dalam rumah tangga sangat menentukan cara pandang dan menejemen interaksi dan masalah seorang anak dalam “dunia” yang lebih besar.

3. “Dunia Kecil” Itu Merupakan Bagian Integral dari Masyarakat.

Rumah tangga adalah bagian integral dari tatanan masyarakat. Sebagai bagian integral masyarakat, mau tidak mau, rumah tangga pasti berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat yang berbeda budaya, suku, pendidikan, karakter, agama, sosioekonomi, dll. Rumah tangga diharapkan mampu membangun perspektif anak dalam memandang masyarakat dan bersikap di dalamnya. Cara rumah tangga memandang masyarakat sekitarnya akan mempengaruhi cara pandang dan sikapnya.

Dalam rumah tangga seorang anak dibekali bagaimana memandang masyarakat dan bersikap di dalamnya. Cara pandang dan sikap yang cenderung negatif melihat masyarakat sering kali akan membentuk anak-anak yang takut dan ragu untuk melakukan interaksi sosial. Ini pasti akan mempengaruhi sikap dan cara pandangnya melihat manusia lain dalam “dunia” yang lebih luas yang akan dihadapinya. Bahkan cara pandang dan sikap itu akan membentuk pribadi anak yang egois, mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Jadi, sebagai salah satu wadah pembentukan, rumah tangga wajib menentukan cara pandang dan sikap yang tepat kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

4. “Dunia Kecil” Itu Senantiasa Berjalan.

Rumah tangga adalah bukti komitmen untuk menyatukan perbedaan demi sebuah harmonisasi hidup. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam pribadi pembentuk rumah tangga akan senantiasa ada. Pembentuk rumah tangga adalah manusia yang dinamis, dengan demikian sikap dan kehidupannya juga tidak akan stagnan pada satu kondisi tertentu. Keadaan inilah yang membuat anggota rumah tangga terus berupa melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang dilakukan adalah demi terciptanya rumah tangga yang diidamkan.

Sebagai wadah pembentukan, rumah tangga juga akan terus berjalan membentuk pribadi anak sesuai dengan harapan. Sama seperti anggota rumah tangga yang lain, anak juga mengalami dinamika hidup. Kehidupan yang dinamis ini tentunya membuat sikap dan kepridadian yang kadangkala harus jatuh bangun. Di sinilah peran rumah tangga sebagai wadah pembentuk dan pembekalan yang terus berjalan. Selama anggota rumah tangga memiliki dinamika hidup, disaat itu pulalah rumah tangga terus berjalan sebagai wadah pembentukan dan pembekalan.

5. “Dunia Kecil” Yang Beribadah.

Eksistensi Rumah Tangga Kristen sejatinya tidak dapat dipisahkan dengan eksistensi Umat Percaya di tengah-tengah dunia. Rumah tangga Kristen adalah bagian dari komunitas umat percaya yang ada di dunia ini. Ketidakterpisahan rumah tangga Kristen dengan umat percaya niscaya memberikan peran dan fungsi yang sejajar. Artinya, peran dan fungsi umat percaya di tengah-tengah dunia ini juga adalah bagian dari peran dan fungsi dari rumah tangga Kristen.

Umat Percaya (Ibr. Qahal; Yun. Ekklesia) adalah orang yang dikumpulkan oleh Allah, dipadukan oleh aturan-aturan Allah dan mengambil bagian dalam perjanjian dengan Allah. Von Rad (Seorang teolog PL) menegaskan bahwa umat percaya dipanggil untuk menyembah dan melakukan perintah Allah. Dipanggil dan dikuduskan untuk menjadi berkat bagi sesama manusia (Bnd. Kej. 12:2-3; Kel. 19:5-6; Ul. 4:20; Tit. 2:14; 1 Ptr.2:9,14). Umat percaya adalah pribadi dan persekutuan fungsional. Pribadi dan komunitas yang dipanggil sebagai alat kesejahteraan atas nama Allah. Dengan demikian, umat percaya sejatinya adalah pribadi dan komunitas yang dipakai Allah sebagai alat-Nya. Pribadi dan komunitas yang menghambakan diri kepada Allah.

Tindakan menghambakan diri kepada Allah itulah ibadah. Ibadah (Ibr. Abodah; Yun. Latreia) berarti melayani, bekerja, menghambakan diri. Tindakan ini didasari oleh rasa “takut” penuh hormat dan ketakjuban penuh puja. Dalam ibadah terkandung dimensi ketaatan dan kesukarelaan bekerja untuk Allah.

Jika “Dunia Kecil” atau rumah tangga Kristen adalah bagian dari umat percaya, maka setiap rumah tangga Kristen adalah rumah tangga yang menghambakan dirinya kepada Allah, bekerja untuk Allah, menyembah dan melakukan perintah Allah, dikuduskan dan dipanggil untuk menjadi berkat. Dengan kata lain, setiap penghuni “dunia kecil” itu adalah pribadi yang penuh kesetiaan senantiasa melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya, bagi sesama dan bagi dunia ini. Dan hal itu semata-mata dilakukan sebagai wujud ketaatannya kepada Allah dan rasa syukur yang mendalam kepada Allah (Bnd. 1 Taw. 16:34; Mzm.17:8; Rm. 12:1-8).

“Dunia kecil” atau rumah tangga yang bersyukur mengandung nuansa iman yang memanggil setiap orang untuk hidup dalam Firman Tuhan. Melakukan setiap Firman dan hidup dalam keteladanan akan Kristus. Dalam rumah tangga yang demikian Yesus Kristus senantiasa dijadikan pondasi kehidupannya dan Firman Allah menjadi penopang dan penuntun setiap pribadi yang ada dalam rumah tangga itu (Bnd. 1 Kor.3:10-23). Semuanya akan memperlihatkan pola hidup: “Dalam Segala Hal Hendaknya Setiap Rumah Tangga Hidup dalam Firman Tuhan”. Dengan demikian warna kehidupan dalam rumah tangga itu akan memancarkan kasih, saling menghargai dan menghormati, saling melengkapi, saling membutuhkan, saling mengingatkan, saling mengampuni dan saling memperhatikan dan menopang (Bnd. Yoh. 13:34-35; Ef. 3:17; 6:1-9; Gal. 6:1-10). Inilah sejatinya “dunia kecil” yang beribadah.

Disamping itu, rumah tangga Kristen yang beribadah adalah rumah tangga Kristen yang mampu bersikap adil dan benar dalam setiap gerak kehidupannya. Dalam pola pikir, tutur kata dan sikap hidup. Memandang setiap orang (tanpa terkecuali) sebagai sesama ciptaan Allah yang harus dikasihi dan diperlakukan secara adil dan benar. Rumah tangga Kristen dapat menjadi Keluarga Kristen yang beribadah jika setiap orang yang berada di dalamnya terus terpanggil (simultan dan kontiniu) mewujudnyatakan kasih dan damai di tengah-tengah kehidupannya.

6. Orang Tua Sebagai Pendidik Menuju “Dunia Kecil” yang Beribadah.

Rumah tangga didiami oleh orang tua (bapak dan ibu) dan anak-anaknya. Setiap orang memiliki peran dan tanggungjawabnya masing-masing sebagaimana yang telah dinyatakan Allah. Dalam Surat Efesus 6:1-4 dikatakan: Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu. Ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: Supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Dalam perikop ini jelas dinyatakan bahwa peran dan tanggungjawab anak adalah menghormati orang tua, dan orang tua berperan dalam pendidikan. Jelas terlihat bahwa orang tua memiliki peran dan tanggungjawab yang sangat menentukan. Tentunya hal ini juga tidak bermaksud mengesampingkan peranan dan tanggungjawab anak di tengah keluarga. Orang tua sebagai pendidik berarti berperan masa kini untuk buah yang akan dilihat pada masa yang akan datang. Dalam kaitannya dengan gerakan menuju”dunia kecil” yang beribadah, maka peranan orang tua sebagai pendidik sangat menentukan realisasi rumah tangga menjadi “dunia kecil” yang beribadah. Masa depan rumah tangga sangat ditentukan oleh pendidikan orang tua.

Orang tua sebagai penentu realitas “dunia kecil” yang beribadah dinyatakan untuk tidak membangkitkan amarah (Ay. 4). Amarah akan menimbulkan luka hati bahkan kebencian. Dalam amarah sesuatu yang baik bisa saja kelihatan buruk, suatu yang putih bisa saja kelihatan abu-abu atau bahkan hitam. Singkatnya amarah akan menimbulkan suasana hidup yang tidak nyaman dan akan mempengaruhi sikap hidup anak. Selanjutnya dikatakan, “didiklah…”. Dalam kata “didik” terkandung nilai kedisiplinan (Disciple = Discipline), dalam pikiran, kata dan perbuatan yang bukan hanya harus diperlihatkan anak didik, lebih-lebih lagi oleh pendidik. Dalam pendidikan terkandung sebuah keteladanan. Artinya, pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang dilakukan dengan keteladanan yang komprehensif. Pendidik harus mampu menjadi teladan bagi yang dididik. Pendidik (Yun. Paedagogos) adalah pendamping, penjaga dan pengawas. Fungsi pendidik dalam pribadi orang tua adalah perpaduan dari fungsi seorang perawat, pendamping dan pembimbing. Inilah yang menjadi tugas utama orang tua senada dengan karya Kristus yang merawat, mendampingi dan membimbing anak-anak.

Hal yang terpenting dari peran dan tanggungjawab orang tua sebagai pendidik adalah membawa seluruh anggota rumah tangga meneladani Kristus. Kristus dan firman-Nyalah yang dituju, bukan kehendak orang tua. Membawa anggota rumah tangga meneladani Kristus tentunya menuntut orang tua yang telah terlebih dahulu “kenal baik” dengan Kristus. Karena adalah hal yang mustahil apabila seorang yang tidak mengenal Yesus memperkenalkan Yesus kepada orang lain. Keadaan “kenal baik” dengan Kristus dalam pribadi orang tua tentunya bukan sekedar teori, tapi itu harus nyata dalam pribadinya yang hidup dalam Kasih. Dengan demikian, pendidikan yang dilakukan akan berjalan baik, dan sangat besar kemungkinan akan tercipta di kemudian hari pribadi “dunia kecil” yang beribadah, komunitas yang beribadah, bangsa yang beribadah dan dunia yang beribadah. Rumah tangga tidak hanya menjadi “dunia kecil” tempat belajar, tetapi juga mampu menjadi “gereja kecil” dimana firman Allah terpancar dan bersinar.

Medan, Minggu Misericordias Domini

25 April 2009

Rabu, 15 April 2009

DEMI ENGKAU AKU RELA (Renungan Paskah)

DEMI ENGKAU AKU RELA

(Efesus. 5:1-4)

Bahan Penelaahan Alkitab Paskah

Pemuda GKPS Belawan Resort Medan Utara & Pemuda GKPS Pers. Patumbak Resort Menteng Indah

Oleh:Jhonedy Chandra Purba, S.Th

Rela…rela…rela aku relakan! Rela…rela…rela aku rela...

  1. Inilah sepenggal syair lagu dangdut era 90-an yang menyatakan sebuah konsep “kerelaan” yang diberikan seorang kekasih kepada pasangannya. Kata “rela” adalah kata yang sering kita dengar dan mungkin merupakan kata yang sering kita ungkapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam KBBI, ada beberapa pengertian yang menguraikan kata “rela”: 1. Bersedia (sudi) dengan ikhlas hati. 2. Izin (persetujuan) perkenaan. 3. Dengan senang hati. 4. Tidak mengharap imbalan. 5. Dengan kehendak dan kemauan sendiri. “Rela” berarti bersedia melakukan/ memberi / mengorbankan sesuatu secara ikhlas, senang hati, tidak mengharapkan imbalan dan dilakukan dengan kehendak sendiri. Orang yang rela tidak megharapkan akan diberi ketika ia memberi. Mau berkorban tanpa mengharapkan penghargaan yang lebih dan mau bekerja tanpa berharap akan upeti.

Ada beberapa dimensi yang diperlihatkan dalam sikap rela: 1. Rela berarti memberikan sesuatu yang berarti. 2. Melakukan sesuatu tanpa syarat. 3. Melakukan sesuatu dengan rasa syukur dan juga menimbulkan rasa syukur. 4. Rela juga mengandung unsur kasih.

  1. Paskah[1] adalah wujud nyata kerelaan Kristus

Dalam perjalanan pelayananNya, kita melihat bahwa dalam pribadi Yesus terpancar sikap rela. Ialah lahir ke dunia dalam rupa hamba (Fil.2:6-8); menjalani Via Dolorosa dengan menerima hinaan, makian, pukulan dan bahkan tikaman yang tidak hanya membawa luka fisik, namun juga luka batin (Luk. 23:1-49). Itu semua dijalani Yesus atas dasar kerelaannya, supaya manusia terbebas dari belenggu dosa dan maut (Rom.3:23-25; 6:23). Yesus rela menderita untuk kebebasan kita, Ia rela mati supaya kita hidup. Kasihnya kepada dunia mendasari kerelaanNya, dan semua itu dilakukan tanpa syarat, ikhlas untuk kemuliaan Bapa (Ay. 2).

3 Respon kita sebagai penerima kerelaan Kristus.

Kerelaan Kristus untuk menderita adalah untuk kebebasan kita, kematianNya adalah untuk kehidupan kita. Yesus menderita dan mati (Paskah) terjadi untuk kebahagiaan dan kehidupan bagi kita. Kalau kita tidak hidup dan tidak bahagia karena Paskah, maka sia-sialah kerelaan itu, karena dalam kerelaan terkandung dimensi syukur bagi si penerima. Dalam efesus 5:1-4, ada ciri kehidupan yang bahagia ysang timbul karena paskah:

a. Hidup sebagai penurut-penurut Allah (hidup dalam ketaatan) (ay.1)

penurut Allah berarti, turut dan patuh kepada Allah serta segala aturanNya. Orientasi dan tujuan hidup penurut-penurut Allah adalah aturan Allah. Dengan demikian sang penurut memiliki ketergantungan mutlak kepada Allah. Dalam hal ini diperlukan relasi dan komunikasi yang baik antara sipenurut (manusia) dengan Allah supaya dia tau apa yang harus dia turuti. Diperlukan komunikasi dan relasi yang berlangsung PeDe (Per detik) XL (Extra Luas) dan senantiasa AXIS. Artinya relasi dan komunikasi yang dibangun berlangsung terus menerus, dalam setiap ruang dan waktu dan dilakukan konsisten dalam suka maupun duka

b. Hidup Dalam Kasih (ay. 2)

Buah dari komunikasi dan relasi yang PeDe, XL, dan AXIS kepada Allah harus terlihat dalam sikap hidup yang penuh kasih. Kasih yang diperlihatkan adalah buah dari komunikasinya dengan Allah. Kasih itu bercermin dari Kasih Yesus. Kasih yang menghadirkan Damai Sejahtera (syalom) dan sukacita (Lih. 1 Kor. 13:4-7). Kasih yang demikian adalah kasih yang muncul dari perpaduan Love in thinking, speaking and doing.

c. Hidup Kudus (ay. 3)

Kudus (qados) berarti dikhususkan bagi Allah. Hidup kudus dimaknai sebagai hidup yang segala dimensinya semata-mata diarahkan kepada Tuhan. Pikiran, perkataan dan perbuatan dikuasai oleh Roh Allah dan diperuntukkan untuk kemulian Allah. Thinking, speaking and doing to serve God. Jika demikian, hidup kudus berarti hidup untuk kemuliaan Allah yang termanifestasi dalam hidup yang bermakna bagi dunia, hidup yang menjadi berkat (ay. 4)

d. Senantiasa Bersyukur (ay.4)

Salah satu hal yang terberat yang dilakukan manusia adalah bersyukur! Banyak cerita dalam legenda masyarakat yang menggambarkan betapa sulitnya manusia untuk bersyukur dan mendapatkan kegagalan karena lupa bersyukur (Mis, Legenda Sampuraga, Malin Kundang). Orang yang mau bersyukur adalah orang yang mau menghargai kerelaan orang lain. Dalam kaitannya dengan iman, orang yang bersyukur adalah orang yang beriman. Karena dalam bersyukur ada keyakinan dan penghargaan atas oknum yang telah memberi/ merelakan sesuatu. Orang yang bersyukur adalah orang yang menghargai kerelaan Allah dalam membebaskan ia dari maut dan dosa. Bersyukur juga merupakan ciri orang-orang yang menghargai berkat (1 Tes. 3:13).

Bersyukur tidak sekedar lips service. Tidak sekedar ucapan ”terima kasih Tuhan” tetapi syukur juga harus dinyatakan dalam sikap hidup yang memberi diri untuk Tuhan dalam pelayanan. Orang yang bersyukur akan melayani lewat kemampuan dan talenta yang ada padanya.

4 PASKAH : “demi engkau AKU rela“ menjadi “demi ENGKAU aku rela“

Paskah adalah wujud kerelaan Kristus memberi diri untuk keselamatan manusia. Dalam setiap penderitaan dan siksaan yang dialami Yesus tersirat ucapan “demi engkau AKU rela“. Dalam setiap tetes peluh dan darah dari sekujur tubuhnya juga tersirat “demi engkau AKU rela“.

Yang menjadi pertanyaan dan perenungan bagi kita adalah: Apa respon yang saya berikan ketika Yesus mengisyaratkan “demi engkau AKU rela“ dalam setiap rintihanNya? Apa yang Saya perbuat untuk menghargai kerelaan itu. Perikop ini mengingatkan kita agar memberi respon bagi kerelaan Yesus. Respon yang mengajak kita untuk menjadi penurut-penurut Allah walau banyak godaan dimasa muda ini, mengajak kita untuk hidup dalam kasih walau dunia dipenuhi kebencian dan amarah, mengajak kita untuk hidup kudus walau dunia penuh kecemaran, mengajak kita untuk senantiasa bersyukur walau dunia tak pernah merasa cukup, mengajak kita untuk menjadi pemuda GKPS yang memberi diri bagi pelayanan sebagai sahabat Yesus.

Sebagai pemuda sahabat Yesus kita sudah menerima kerelaan dan pengorbanan Kristus. Maka sudah selayaknya kita memberi jawaban yang pasti kepada Yesus: ”demi ENGKAU aku rela”. ”Demi ENGKAU Aku rela” berlelah dalam pelayanan ini, ”demi ENGKAU aku rela” dianggap bodoh oleh dunia karena aku turut aturanMu. ”Demi ENGKAU aku rela” berpeluh menahan ego dan keinginan daging demi memperlihatkan kasih. ”Demi ENGKAU aku rela” mengkerdilkan nafsu duniaku agar selalu bisa bersyukur atas anugerahMu.

Inilah saatnya kita berkomitmen untuk memberi diri dalam setiap pelayanan. Inilah saatnya kita bangkit dan maju dalam pelayanan. Ya Tuhan... demi ENGKAU aku rela!



[1] Paskah adalah suatu hari raya yang dirayakan orang Yahudi untuk memperingati pembebasan Israel dari Mesir. Anak sulung orang Mesir mati dibunuh, tapi pintu-pintu orang Ibrani dilewati (Ibr: Pesakh yang sesjajar dengan Paskah, yang berarti “melewati”). Paskah diperingati dengan mengadakan perjamuan dengan memakan korban paskah atau anak domba Paskah (Kel. 12:23-28; 43-51). Dalam Perjanjian Baru Kristuslah yang disebut korban Paskah (1 Kor. 5:7; Why. 5:6). Gereja Kristen masa kini merayakan Paskah pada hari kebangkitan Kristus, kebangkitan kristus menandai kemenanangnnya atas dosa dasn maut. Orang yang percaya akan Kristus juga mendapatkan kemenangan itu dan lepas dari dosa dan maut.