Kamis, 28 Februari 2013

SOMBONG ROHANI (Roma 2:3)



Sejak digulirkannya era reformasi 13 silam, salah satu agenda Republik ini adalah penegakan supremasi hukum. Penegakan hukum yang adil dan berprikemanusiaan menjadi salah satu pekerjaan yang urgen yang harus diemban penegak bangs ini. Lembaga-lembaga yang berkenaan dengan upaya itu dibenahi dengan serius, mulai dari restrukturisasi Kementrian Kehakiman sampai kepada pembentukan Komisi pemberantasan Korupsi (KPK). Semuanya ini dilakukan agar hukum yang diberlakukan benar-benar adil dan objektif. Tentunya adil menurut ukuran undang-undang yang memang diakui keabsahannya di negeri ini.

Hukum yang baik adalah hukum yang objektif, artinya hukum yang mengacu pada suatu titik yang diakui sebagai undang-undang yang memuat nilai keadilan dan kebenaran, bukan kepentingan atau keuntungan satu golongan atau pribadi. Sebab, jika titik yang diakui itu kepentingan atau keuntungan maka yang terjadi adalah hukum yang subjektif, yang bertitik tolak pada kebenaran pribadi atau golongan. Dengan itu akan tercipta orang-orang yang seolah kebal akan hukum, padahal sejatinya rumus hokum adalah: yang salah harus disalahkan dan benar harus dibenarkan.

Dalam renungan ini Paulus mengungatkan orang-orang Yahudi pada zamannya untuk menilik bagaimana prilaku kebenaran yang mereka hidupi. Apa yang menjadi titik kebenaran yang mereka yakini. Ada kecenderungan di tengah-tengah bangsa Yahudi bahwa mereka senantiasa benar bahkan menjadi sumber kebenaran. Oleh karena paradigma berfikir yang demikianlah kaum Yahudi meras layak untuk menghakimi orang lain, menempatkan diri sebagai sumber hukum dan penghakiman.

Paulus melihat bahwa hukum yang bersifat subjektif diberlakukan bangsa Yahudi kepada orang lain. Mereka merasa sebagai golongan yang kebal hukum, dan memposisikan diri tetap sebagai yang benar. Padahal pada kenyataannya, prilaku mereka tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang yang mereka hakimi itu. Inilah yang saat ini dikenal sebagai “sombong rohani”. Ini adalah penyelewengan akan eksistensi manusia sebagai hamba Allah. Dihadapan Allah semua manusia adalah sama, tak ada yang khusus. Semuanya adalah mkhluk yang istimewa, yang adalah “gambar Allah” (imago Dei) yang diharapkan memperlihatkan sifat-sifat Allah. Siapa pun dia, ketika hidupnya tak memperlihatkan sifat-sifat Allah, maka dia adalah seteru Allah, demikian sebaliknya. Maka tugas kita adalah memperlihatkan sifat-sifat Allah itu, bukannya menghakimi orang lain layaknya orang yang tak berdosa. Itulah sebabnya, dalam perikop ini Paulus dengan tegas mengatakan sebuah larangan menghakimi kepada Jemaat Kristen di kota Roma.

Oleh karena itu, sebagai hamba Allah tolak ukur kebenaran adalah hidup yang memperlihatkan sifat-sifat Allah dalam kehidupan ini. Dan memang itulah pekerjaan kita. Jangan sampai terjerumus pada kesombongan rohani, dan jangan tempatkan dirimu sebagai Jahudi-Jahudi baru yang merasa benar menurut kaca matanya sendiri…

Gunung Sitoli, Tano Niha, 5 September 2011
Di Suatu Malam Menjelang Tidur

DIBENARKAN KARENA IMAN (Roma 4:1-13)



Man Purpose but God Dispose! Secara sederhana kalimat ini dapat kita artikan “manusia berencana tetapi Tuhan yang menentukan”. Pribahasa ini mengungkapkan sebuah fakta bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang terbatas. Secara khusus, terbatas dalam menentukan hasil akhir dari rangkaian perjalanan kehidupannya. Ya, inilah faktanya: Manusia adalah makhluk yang terbatas.

Dalam perihal keselamatan, fakta keterbatasan manusia ini sangat jelas. Dalam Roma 3:23 Paulus menyebutkan bahwa “semua manusia telah berbuat dosa”. Keberdosaan itu menjadi penghalang bagi manusia untuk sampai kepada Allah dan memperoleh keselamatan. Dengan segala upaya manusia berusaha untuk keluar dari kungkungan dosa, tapi nyatanya, kembali manusia itu diperhadapkan kepada keterbatasannya. Ia tidak mampu keluar dari kungkungan dosa itu, bahkan ketika ia melakukan taurat (4:13). Lalu Allah berinisiatif menjadi pendamai antara manusia dengan Allah dan mengangkatnya melalui Yesus Kristus.

Pada perikop ini Paulus menyaksikan fakta itu dengan pengungkapan fakta sejarah Bapa Leluhur Abraham dan Daud. Dikatakannya, Abraham tidak dibenarkan karena perbuatannya (4:1-3). Demikian halnya dengan Daud yang diampuni oleh Allah (4:6-8). Walaupun keduanya dikenal sebagai pribadi yang ‘baik’, tapi bukan berarti kebakan itu yang menghantarkan mereka kepada gerbang keselamatan. Abraham, demikian halnya dengan Daud, memperoleh keselamatan atas Karya Allah, bukan karena upayanya. Selanjutnya Paulus menegaskan bahwa karya Allah perihal keselamatan itu kemudian dimateraikan (disahkan) melalui sunat yakni tanda bahwa Allah sudah membenarkan mereka (4:11). Sunat adalah tanda pemateraian berdasarkan iman. Dengan pemateraian itu mereka menjadi layak menerima keselamatan. Tentunya dalam iman kepada Allah. Tanda itu kemudian menjadi ciri bagi pola hidup mereka. Dalam hal ini, jika sunat sebagai tanda keselamatan, maka orang yang bersunat tentu diharapkan memperlihatkan ciri yang ‘selamat’. Apa ciri itu? Menjadi agen keselamatan bagi manusia yang lain. Menjadi media bagi keselamatan manusia lain. Sunat berarti pengesahan, orang yang sudah disahkan diharapkan bertanggungjawab atas apa yang disahkan itu.

Menyoal manusia sebagai agen atau media keselamatan, manusia itu harus menjadi manusia bagi sesamanya (homo homini homo). Artinya, manusia itu memiliki habitus (kebiasan) berprilaku kemanusiaan, berperasaan, berbudi, bertenggang rasa, bermartabat luhur, bermurah hati, berjiwa besar dan bertanggungjawab. Semuanya ini adalah bukti bahwa manusia itu benar-benar memperlihatkan materai itu dalam dimensi kehidupannya. Dan tentunya, kesemuanya itu ber-hulu dan ber-muara pada iman kepada Allah. Inilah cirri yang dibenarkan karena Iman sama sperti Abraham dan Daud, kita juga diharapkan tampil demikian.. Amin

Gunung Sitoli - Nias
2 September 2011
23.16 WIB 

Catatan Kecil Di Hari Ulang Tahun....



Hidup hanya satu kali. Panjang perjalanan hidup pun terbatas. Tak bisa diulang atau diperpanjang. Itulah sebabnya, mengapa bagiku kesempatan menikmati pertambahan usia saat ini menjadi suatu hal yang sangat istimewa. Istimewa, karena ternyata sudah 28 tahun aku menjalani kehidupan ini. Sudah 28 tahun aku diberi kesempatan menikmati dunia ini dengan segenap riak-riaknya.

28 September 1983, Allah mengaruniakan kesempatan bagiku untuk menikmati kehidupan dengan segala warna-warninya. Di pinggiran kota Medan dan ditengah keluarga yang sederhana Allah menitipkanku untuk bertumbuh dan menjadi salah satu pelaku dalam skenario kehidupan yang dirancang-Nya. Bak sebatang pohon, aku tumbuh. Bak seokor burung aku belajar terbang mengarungi langit. Bak seorang actor aku memainkan peran dalam ruang dan waktu dimana Dia menitipkanku untuk mewarnai setiap alur cerita yang disutradarai-Nya. Kadang pohon itu harus berhadapan dengan angin sepoi-sepoi yang begitu menyejukkan, walau kadang rantingnya harus patah bahkan batangnya tumbang diterpa deru angin yang membahana. Kadang burung kecil itu harus jatuh ketika dia belajar terbang mengitari luasnya cakrawala dan kadang dalam ketegarannya dia mampu menaklukkan setiap tiupan angina yang menghantam. Kadang, actor yang tak ternama itu harus memainkan peran utamanya dengan tergopo-gopo, walau kadang kala ia hanya tampil sebagai figuran yang hanya dipakai untuk peran yang sama sekali tak menghibur. Semua itu sungguh istimewa bagiku karena pada kenyataannya aku mampu tetap hidup dan mewarnai kehidupan hingga saaat ini.

Dalam hidup dan dalam tugas mewarnai kehidupan itu, semakin aku menyadari bahwa Dia menginginkanku terus bertumbuh. Bertumbuh tidak hanya untuk menjadi pelengkap tapi mengambil peran yang sungguh amat penting. Akan tetapi, semakin aku berupaya untuk menghayati keinginan-Nya itu, jiwaku senantiasa dituntuntun pada sebuah pertanyaan: “Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?’. Sungguh, pertanyaan itu tetap menjadi misteri yang tak pernah terpecahkan sampai 28 tahun kujalani kehidupan ini. Bak sebatang pohon, aku hanya sebatang pohon kecil, bak seekor burung, aku nyatanya bukanlah burung rajawali. Bak seorang actor, aku hanyalah actor yang tak selalu menyadang peran utama.

Pertanyaan itu, semakin membahana dalam batinku manakala 2 tahun silam, Dia memanggilku untuk menjadi hamba-Nya untuk sebuah tugas besar dalam rumah-Nya. Dalam segala lini kemampuan, aku biasa-biasa saja. Bahkan terlalu naïf rasanya jika aku dikatakan pantas untuk tugas mulia ini. Anehnya, Dia tetap mau pakai aku hingga saat ini. Sungguh, bagiku ini adalah sebuah apresiasi yang sangat luar biasa dari Allahku yang luar biasa.

Saat ini, ketika Dia mengaruniakan aku kesempatan mengarungi kehidupan ini satu tahun lagi, aku mau pertanyaan itu tetap membahana dalam sanubariku. Sebuah pertanyaan yang kuharapkan menuntunku pada pengakuan yang mantab akan kebesaran-Nya. Pengakuan yang tak hanya menjangkau ranah pikirku tapi juga mendarat kuat dalam setiap sesi kehidupanku. Dan biarlah pertanyaan itu pada akhirnya akan menuntunku pada sebuah titik yang pasti: “kemana sebenarnya tujuan hidup ini kuarahkan?

Terimakasih Ya Tuhan Allahku, atas hidup yang masih Kau biarkan ada padaku. Terimakasih buat seluruh insan yang masih Kau biarkan terus mendampingiku dalam menjalani lautan luas kehidupan ini. Sungguh, aku istimewa bagi-Mu. Pakai aku ya Tuhan seturut rencana-Mu. Tuntun aku untuk mampu mensyukuri limpahan berkat yang masih Kau biarkan menghampiriku….
"Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?
I Tawarikh  17:16

Negeri Berbilang Kaum
Sibolga Nauli
28 September 2011




Kamis, 21 Februari 2013

TATKALA ALLAH MELAWAT UMATNYA DI TIMUR BORNEO (Sebuah Catatan Sederhana Tentang Perayaan Natal dari GKPS Resort Kalimantan Timur)


Perayaan Natal yang kami lakukan memang tak lebih dari sebulan. Namun kami rindu Roh Natal yang membawa kedamaian, sukacita dan kasih itu terus bertiup sepanjang hidup. Kidung Natal yang kami nyanyikan memang hanya berdurasi singkat, namun kami rindu gaungnya tetap mengisi relung hati kami sepanjang usia. Memang, peran gembala, majus dan para malaikat sudah selesai dilakoni di pentas perayaan Natal, tapi kami berharap karakter dan semangat pembawa sukacita serta damai sejahtera itu merekat erat pada setiap pribadi. Inilah kerinduan yang kami miliki, yang mebuat kami berani merayakan Natal di tengah-tengah keterbatasan kami.
  

Perayaan Natal di Timur Borneo dimulai di Kota Beriman: Balikpapan, pada hari Sabtu, 8 Desember 2012 melalui Perayaan Natal Seksi Sekolah Minggu GKPS Balikpapan. Disini, anak-anak Sekolah Minggu tampak begitu ceria dengan pakaian dan asesoris Natalnya yang –mungkin- baru dibeli orang tuanya. Berita Natal telah ‘menyihir’ para generasi penerus gereja yang masih penuh dengan keterbatasan ini mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyampaikan pesan Ilahi bahwa Kristus Sang Juruslamat telah lahir.
 
Bagi kami, inilah sejatinya Natal! Natal yang mengubah seseorang menjadi pribadi yang mau memberi diri untuk memberitakan keselamatan Kristus. Apa yang terjadi pada peristiwa Natal lebih dari dua milenium yang lalu kini terulang di Timur Borneo. Tentu kita masih ingat dengan para gembala yang jauh dari kesan ‘mapan’ namun mau memberi diri memberitakan kebesaran Kristus yang lahir itu (Lih. Luk. 2:17-20). Inilah lawatan Allah yang kami rasakan kala itu. Allah ‘menggelitik’ jiwa sadar dan iman kami, agar dikemudian hari kami memiliki kemauan yang mengakar untuk menjadi saksiNya ditengah-tengah keterbatasan kami. 

Seminggu kemudian, Gema Perayaan Natal pun berlanjut di Kota Tepian: Samarinda, melalui Perayaan Natal Sekolah Minggu dan Pemuda GKPS Samarinda. Sungguh, apa yang kami lihat dalam perayaan Natal kali ini sangat luar biasa. Dekorasi Natal yang ditampilkan seolah membangkitkan ingatan masa lalu kami akan perayaan Natal di huta hasusuran. Betapa tidak, dekorasi Natal kali ini dibuat bernuansa Simalungun, sungguh unik dan menarik. Tak hanya itu, liturgi Natal yang dikemas dengan ragam visualisasi sungguh menceritakan realitas hidup yang real. 
 
Sedikit melirik ke belakang, ternyata semuanya itu adalah buah karya naposo, yang notabene adalah para karyawan dan mahasiswa yang diakhir tahun biasanya disibukkan dengan deadline pekerjaan dan persiapan ujian-ujian di kampus masing-masing. Ternyata Terang Natal telah menstimulasi para tunas muda gereja ini menjadi pribadi yang lebih berhikmat. Kembali, impact kelahiran Kristus terulang disini! Ini mengingatkan kami akan pengalaman Para Majus yang diberi hikmat oleh Allah untuk memilih jalan lain untuk pulang ke Timur, sehingga luput dari kejaran sang Herodes (Lih. Mat. 2:12). Dan dengan demikian berita Kristus terus berlanjut. Natal kali ini ternyata tak hanya mengajarkan kami akan arti pentingnya memberi diri dalam mewartakan Kristus, tetapi juga mengajarkan bahwa didalam kemauan itu Allah akan bekerja dengan memberi hikmat sehingga membaralah semangat, kerjasama, kreativitas dan inovasi yang tiada henti.

Esok harinya, Minggu, 16 Desember 2012, gema Natal kembali bergaung di GKPS Balikpapan melalui Perayaan Natal Seksi Pemuda. Memang, formula acara dan persembahan dalam perayaan Natal ini tak jauh berbeda dengan apa yang telah dipersembahkan Pemuda GKPS di Samarinda pada hari sebelumnya. Akan tetapi, kali ini Natal memberikan pesan plus bagi kami. Betapa tidak, gita pujian Natal tak hanya berkumandang dari mulut Pemuda GKPS, tetapi juga dikumandangkan oleh para Pemuda Gereja tetangga (HKBP dan GKPI) yang hadir dalam Perayaan Natal itu. Bagi kami adalah fakta yang membelajarkan! Natal telah menyatukan kepelbagaian dan membentuk harmoni pujian yang luar biasa. Mungkin, inilah yang terjadi pada Natal lebih dari dua milenium yang lalu, dikala kepelbagaian (malaikat, bala tentara sorga, gembala, orang Majus) dipersatukan oleh Natal sehingga berpadu membentuk harmoni pujian sukacita yang luar biasa. Kami merasa bahwa ini juga adalah lawatan Allah yang luar biasa bagi kami. Keberadaan GKPS di Timur Borneo ini meniscayakan realita heterogenitas. Allah telah melawat kami sekaligus memberikan pencerahan bahwa kepelbagaian bukanlah lampu merah bagi pewartaan Injil Kristus. Doa kami, melalui lawatan Kristus kepada kami pada Natal kali ini, memantapkan langkah kami untuk terus memberitakan Injil kepada segala makhluk (Mrk.16:15). 

Seminggu kemudian kumandang Natal diperdengarkan oleh Seksi Bapa dan Seksi Wanita. Nyanyian Hari Ibu (Mothers Day) dipadu dengan genderang Natal. Di dua tempat yang berbeda (Balikpapan dan Samarinda),   dalam waktu yang bersamaan, kumandang Natal diperdengarkan. Perayaan Natal, yang dilaksanakan dalam kebersamaan seksi bapa dan seksi wanita, sekaligus tepat pada perayaan hari ibu bukanlah suatu hal yang kebetulan bagi kami! Ini adalah bagian dari rencana Allah untuk membentuk kami. Ditengah maraknya fenomena KDRT dan ketidakharmonisan Rumah tangga, Natal disini hadir dan mencoba menatang fenomena itu. Natal memperlihatkan bahwa bapa dan inang ternyata mampu duduk bersama dalam mepersiapkan dan melaksanakan pujian Natal yang indah bagi kemuliaan Tuhan. Dan kami percaya, kebersamaan dan harmoni pujian itu tidak hanya berhenti sampai di gerbang gereja, akan tetapi dapat terus menyala di setiap rumah tangga. Natal ini, seolah menepis fenomena KDRT dan ketidakharmonisan itu. Keyakinan kami, Natal kali ini adalah cara Allah melawat sekaligus memberi pesan damai bahwa sejatinya bapa dan inang adalah mitra sejajar yang dipersatukan Allah, yang hidup dalam kesatuan kasih (Kej. 2:18; Mat. 19:5-6; Mrk. 10:7-8; 1 Kor. 6:16; Ibr. 13:3). 

Inilah sekelumit cerita sukacita dan harapan kami dalam Natal 2012 dai Timur Borneo ini. Dari hati yang terdalam, kami memanjatkan Pujian yang sebesarnya kepada Allah yang telah bersedia melawat kami dai akhir tahun ini, dan kami percaya, itu akan berlangsung sepanjang masa. Terimakasih buat seluruh Jemaat yang telah bersedia menjadi pembawa berita Natal dari Allah untuk kita. Kiranya damai Natal terus menyala dalam hati kita...

Salam Natal dari Timur Borneo...
Tulisan Ini Telah Dimuat di AB GKPS Edisi 466 Februari 2013 (Hal. 34-35)
                                                                                                                         

Sibasaon & Ambilan Minggu Invocavit, 17 Februari 2013 (MARTURIA GKPS DISTRIK III)



Sibasaon Minggu Invocavit, 17 Februari 2013
5 Musa 6:10-19

Parlobeini.
Buku 5 Musa aima Buku palimahon humbani Tanakh (Taurat). Bani bahasa i Eropa, buku 5 Musa isobut Deutronomium, na iadopsi humbani bahasa Latin pakon bahasa Yunani Δευτερουόμιου. Bani bahasa Heber buku on isobut Devarim na marati “kata-kata”. Istilah Devarim ibuat humbani kalimat awal bani buku on: "Eleh ha-devarim" na mararti “inilah perkataan-perkataan” (yang diucapkan Musa). Jadi, isi pokok 5 Musa on aima pidato (perkataan-perkataan) Musa hubani bangsa Israel, khususni sanggah marianan bangsa ai i dipar ni Jordan, bani pamah tontang ni Suf, iholang-holang ni Paran, Tofel, Laban, Hazerot pakon Disahab (Lih. 5 Mus. 1:1), anjaha panorangni aima bani ari parlobei bulan pa sampuluhduahon bani tahun terakhir pardalananni sidea hun Masir (5 Mus. 1:3).

Pidato on aima songon sada wejangan laho pasirsirhon diri mamasuki wilayah na dob dokah itadingkon sidea. Mase pala ibahen Musa wejangan ai hubani Israel? Parlobei: Tongon, realitasni Kanaan na sinobutni Bibelta aima tanoh habaoranni dadih pakon manisan ni huramah (5 Mus. 6:3), tapi maningon do homa jujur hita mangidah bahasa paima imasuki sidea huta Kanaan, domma adong ijai bangsa-bangsa Kanaani na lang sahaporsayaon pakon sidea anjaha ai berpotensi mempengaruhi (parsedahon) identitas Israel selaku bangsa pinilihni Naibata. Kanaan adalah peluang sekaligus ancaman bani identitas Israel. Na paduahon: Padanni Naibata bani Israel aima padan na marlaku marribu-ribu sundut (Lih. 5 Mus. 7:9). Jadi panratah-ratahion marhitei wejangan nokkan martujuan laho memotivasi Israel ase totap manggolom padan na dob binulawankon sidea pakon Naibata. Ibagas na sihol pungkahonni Israel babak baru pargoluhanni sidea, iojur do sidea ase totap manggoluh ibagas jalur na dob itotapkon Naibata marhitei padanNi, ase ulang surut idopni uhurni Naibata bani goluhni sidea. 

Hatorangan Teks
Laho mamasuki tanoh Kanaan na mengundang anjaha mengandung tantangan ai, Musa mangontang bangsa Israel laho mempersiapkon diri. Persiapan on martujuan ase sanggah ibagas parjumpahanni (asimilasi pakon sosialisasi) sidea pakon bangsa-bangsa Kanaani na manumbah Baal/animisme, bangsa ai totap boi pataridahkon jati diri na mantab. Lang terpengaruh/salih. Persiapan ai ipungkah Musa marhiteihon na paratahkon konsekwensi perjanjian na dob binulawankon ompungni sidea ronsi na binulawankonni sidea pakon Naibata (5 Mus. 4:31; 5:2-3; 7:9) .

Konsekwensi perjanjian ai, Israel maningon manggoluh ibagas hapansingon (qadosy). Halani ai porlu do adong aturan (mitswah) pakon uhum (misypatim) na gabe pranata pargoluhan (Lih. 5 Mus. 6:1-2). Pandalankonni aturan pakon uhum ijon, sedo bermaksud mambahen beban bani Israel, tapi in ma hataridahan balosni sidea dompak habanggalonni pambahenanni Naibata na dob paluahkon sidea humbani parjabolonnonni Masir. Ase, pandalankonon aturan pakon uhum ibagas malasni uhur (sedo beban) ai do na pinindo ni Naibata ijon (Bdk. Psalm. 119:47). Jadi, pandalankonon ni bangsa ai bani aturan pakon uhum, aima na gabe tanda bahasa sidea aima anakni Naibata. Identitas selaku bangsa pinilihni Naibata boi totap sihat bani Israel pitah ibagas hasirisronni mardalan bani aturanni Naibata.

Parpadanan (covenant) aima idupni uhur (anugerah) sekaligus parentah, janah haduasi mardalan seirama. Ijin irahut padan ai, ijai ma homa maningon mardalan dua sisi parpadanan nongkan. Marhitei parpadanan ai ibere do hubani Israel idopni uhur songon na dob binulawankonni Naibata hubani sidea. Bani konteks perikop on ipatalar marhiteihon na jinalo sidea huta na bolon pakon na dear na so pinungkahni sidea, rumah na gok marisi ugas na so niisini sidea, parigi na hinurak na so hinurakni sidea, sonai age anggur pakon hayu zetun na so sinuanni sidea (5 Mus. 6:10-11). Halani ai gabe keharusan hubani Israel laho manggoluh ibagas uhum pakon aturanni Naibata. Ipagolpa si Musa do bangsa ai ase totap jaga bani aturanni Naibata, ulang lupa sidea (5 Mus. 6:12-13). Lupa mararti do ai mangengkar! Pangengkaran hubani padan mararti do ai pangengkaran hubani idopni uhurni Naibata. Anjaha mararti do homa ai hamateian/ kebinasaan. Bani hata na pondok boi hatahononkon bahasa hasirsironni Israel mandalankon uhum pakon aturanni Naibata, ai do na gabe hagoluhan bani sidea. Sebalikni, pangengkaran mararti hamateian. Hatani Naibata do na gabe bona ni hagoluhan bangsaNi anjaha maningon in ma sitangihononkon.

Agama pakon budaya bangsa-bangsa Kanaan manghaporsayai bahasa Baal pakon dewa-dewa aima sumber hagoluhan (mambere kesuburan pakon kelimpahan). Proses asimilasi pakon sosialisasi na terjadi i Kanaan ra do mangkorhon ha-lupa-on bani aturan ampa uhumni Naibata. Sebagai bangsa na mulak mandasor, tontu buei do kesenjangan na terjadi antara bangsa Kanaani pakon Israel. Kesenjangan cenderung menundang jolma laho berfikir instan, mandalankon cara na so talub, pnl. Ase, ibagas na mandompakhon tantangan on, pidatoni Musa on sihol patotapkon uhurni bangsa ai bani pasu-pasu pakon gogohni padanni Naibata ibagas hatundukonni bani uhum ampa aturan.   

Manangihon ronsi manghagoluhkon uhum pakon aturanni Naibata na ipadas sebagai konsekwensi parpadanan Israel pakon Naibata aima pangajaran pakon petunjuk na manrimpun sura-surani Naibata hubani bangsaNi. Aturan pakon uhum bermuara bani kenyaman ronsi kesejahteraan (syalom). Aturan pakon uhum maningon do niaruson domu hubani maksudni Naibata (syalom) ai. Mangiringkon uhum pakon aturanni Naibata garansini aima syalom. Ai do ase bani ayat 14-15 ipagolpa do bangsa ai ase ulang manlembang hubani naibata na legan (Baal, dewa). Panlembangion mararti mambangun tembok pemisah hubani syalom ai, mararti do homa ai pagajakhon ringisni Naibata, janah lambin dohor hu mateian.

Setia do Naibata bani padanNi (5 Mus. 5:10). Kesetiaanni Naibata bani padan na binulawankonNi domma nyata bani sejarah pargoluhonni Israel. Lang porlu be ilajou atap pe ipertanyahon use (5 Mus. 6:16). Manlajou atap pe mempertanyakan kesetiaanni Naibata mararti sangsi bani kuasa ampa idopni uhurNi. Bani ayat-ayat sebelumni domma ipatugah Musa piga-piga fakta sejarah kesetiaanni Naibata bani padanNi (5 Mus. 6:10-11). Pengungkapan fakta sejarah on bermaksud patotapkon haporsayaonni Israel ase ulang be sangsi bani Jahowa. “Lang be panorangni manungkun konsistensi kesetiaanni Naibata bani padanNi, na tang siporlunan sonari aima pataridahkon konsistensi kesetiaanta bani padan ai”. Ai do ase, gomus ipagolpa si Musa bangsa Israel laho manramotkon padan, aturan pakon titahni Naibata hubani sidea ibagas habujuron (5 Mus. 6:17).

Manramotkon padan, aturan pakon titahni Naibata ibagas habujuron maningon do iterjemahkon bani situasi kongkret, nyata. Titik berangkat penerjemahan ai aima holong dompak Naibata secara total (5 Mus. 6:5). Mase? Halani titik berangkat parpadananni Jahowa dompak Israel pe maronjolan bani holong do. Ambahni ai, pelaksanaan aturan pakon uhumni Naibata na lang maronjolan bani holong pasti mambahen aturan pakon uhum ai gabe aturan na matei, keras, janah gabe gurita aturan na mambahen goluh kaku anjaha suram. Wujudnyata panramotionni padan, aturan pakon titahni Naibata aima goluh na pintor, na madear anjaha marorientasi hu hasonangan (syalom). Pambahenan na sonon aima pambahenan na marpihak bani aturan pakon uhumni Naibata, janah mararti do ai marpihak bani Naibata. Marhiteihonni ai terjadi ma komuni tindakan antara jolma pakon Naibata. Ibagas komuni na sonai ma jolma margogoh mantaluhon ganup munsuh, ancaman na sihol mandorap goluh on (5 Mus. 6:19).  

Poin-poin Renungan Pakon Diskusi
1.       Perikop 5 Musa 6:10-19 on patugahkon bahasa pasu-pasuni Naibata (Kanaan: tanoh habaoranni dadih pakon manisan na huramah) mengandung dua sisi: Peluang pakon tantangan/ ancaman. Peluang do ai bani Israel laho pataridahkon hajongjonganni sidea selaku bangsa na pinilih (istimewa), tapi sekaligus gabe ancaman bani hajongjonganni sidea. Menurut ham, aha do na gabe syarat ase pasu-pasuni Naibata ai boi tetap eksis gabe peluang?
2.       Ipatugah ambilan on hubanta, bahasa panramotion bani uhum pakon aturanni Naibata aido na gabe kunci kesuksesanni Israel (bangsa pinilih). Naha do sikapta mangidah kenyataan bani goluh on bahasa buei do halak na jelas lang manramotkon aturan pakon uhumni Naibata (Mis. KKN) tapi “torsa” do idahon goluhni, sementara dong na “bujur” tapi totap do manaron?
3.       Israel (sonai homa keluarga, pribadi ni halak na porsaya) ipilih laho gabe ‘etalase’ (sitiruon) bani bangsa-bangsa. Buei do kuasa na adong isekitarta na sihol mangagou tujuan on. Pidato Musa bani perikop on martujuan membentuk generasi na totap boi gabe ‘etalase’ marhiteihon mewarisi sikap na manghaholongi Jahowa anjaha manramotkon uhum ampa aturanNi. Naha do hita nuan membentuk generasinta selaku pribadi ronsi keluarga na pinilihni Naibata?

Pdt. Jonedy Chandra Purba
GKPS Resort Kalimantan Timur


Ambilan Minggu Invocavit, 17 Februari 2013
Mateus 4:1-11

Parlobeini
Parlajouan roh mandorap pargoluhanni jolma marhiteihon bagei aspek, bagei panorang ronsi bagei ianan. Tujuanni sonaha ase hatani Naibata lang be marhagogohon. Songan na hinatahonni Marthin Luther: “Ketika Firman Allah yang suci naik, ini selalu banyak ditentang Setan dengan segenap kekuatannya… ia menyerangnya dengan bahasa palsu dan roh-roh penyesat dan para pengajar sesat. Karena ia tidak dapat menghancurkan dengan kekuatan maka kemudian ia mencari cara untuk menekan dengan tipu muslihat dan dusta” (What Luther Says, Concordia Publishing House, edisi 1994, hlm. 395). Parlajouan aima manifestasi kuasa na sihol pamagouhon identitas. Bani Padan Nabasaia, ilajou sibolis do jolma (Adam pakon Hawa) ase lang be tunduk bani kesegambaranni pakon Jahowa. Anjaha bani Buku Mateus, ilajou sibolis in do Jesus ase magou identitasNi selaku Anak Hinaholonganni Naibata. Na takluk bani panlajouan mararti kehilangan identitas ma ia.

Adong do kemiripan alur kisah parlajoan bani buku 1 Musa pakon Buku Mateus. Na parlobei: Bani Buku 1 Musa kisah parlajouan itempatkon dobhonsi barita panompaon rampung. Parlajouan terjadi dobhonsi naibata menegaskon identitasni jolma (1 Mus. 1:26-28). Sealur do on pakon nasinuratkonni Mateus, na manuratkon kisah parlajouanni Jesus dobhonsi pemaparan partubuh pakon penyataan identitasNi marhiteihon pandidion (Mat. 3:3-17). Na paduahon: Bani buku Musa sipanlajou (sibolis) na ipatangkas marhitei profil ulog, manlajou marhiteihon cara na cerdik anjaha ipakei do bagei-bagei trik ampa taktis na jenius. Gaya na sarupa taridah do homa bani buku Mateus. Ilajou sibolis in do Jesus marhitei cara ampa trik na jenius homa (bahkan mamakei hata ni Naibata). Kesejajaran on mengandung pesan khusus. Mateus (sahalak Jahudi), dengan sengaja memanfaatkon struktur 1 Musa on laho patugahkon pesan: Bahasa ibagas Jesus do ipungkah tinompa na baru (Ef. 2:15; 4:24), Ibagas Jesus domma talu sibolis pakon ganup kuasani.

Hatoranganni Teks
Tonduy ni Naibata do na mambobai Jesus hu halimisan, ase ilajou Ia (4:1). Bani zaman Jesus adong ekspektasi bani halak Jahudi bahasa Mesias aima suruhan ni Naibata na martugas mantaluhon kuasa hagolapan. Anjaha halimisan imaknai sebagai ianan ni tonduy hagolapan. Jadi, secara eksplisit panoguonni Tonduyni Naibata hubani Jesus laho hu halimisan martujuan menjawab ekspektasi ai. Artini, harohanni Jesus hu halimisan marhitei panoguonni Tonduy patugahkon fakta bahasa ipungkah ma genderang perang manlawan kuasa tonduy hagolapan anjaha ipertegas do homa bahasa Ia ma Mesias ai.

Bani na mandalankon parporangan manlawan kuasa hagolapan (halimisan), ibobai Tonduy ni Naibata do Jesus, janah mandalankon ritual puasa do Ia. Marpuasa 40 ari 40 borngin pasingatkon hita bani aha na dob binahenni Musa bani Padan Nabasaia, aima hataridahan ketaatan (ketundukan) ampa relasi na intim pakon Naibata (Bdk. 2 Mus. 24:28; 5 Mus. 9:9, 18). Ritual puasa na binahenni Jesus bani perikop on menegashon hasirsironNi manghagoluhkon panogu-noguonni Tonduy ai Bani. Artini, idompakhon Jesus do parporangan ai ibagas panghasomanion ampa pangurupionni Tonduy, sedo maronjolan bani kuasa ampa gogoh kemanusiaanNi.

Secara hajolmaon, puasa 40 ari 40 borngin mambahen loheian Ia (Mat. 4:2). Hal on patugahkon sisi kemanusiawionni Jesus. Selaku jolma, wajar do Ia loheian dobhonsi marpuasa sonai dokahni. Gabe galek ma sisi kemanusiawionNi. Ipakei sibolis do keadaan on laho manlajou aha na dob iproklamirhon Naibata pasalSi sebelumni (Mat. 3:17). Isuruh ma Ia mambahen batu gabe ruti (Mat. 4:3). Parlajouan na parlobei on bermaksud laho manguji prioritas ampa orientasi pargoluhan. Selaku anak hinaholonganni Naibata, aha do na gabe prioritas pakon orientasi goluhNi? Sipanganon atap Hatani Naibata? Material atap spiritual? Jesus mangutip 5 Musa 8:3 laho mambalosi parlajouan ai. Bani 5 Musa 8:3 ipatugah bahasa Naibata menguji bangsaNi 40 tahun dokahni i halimisan anjaha paturutonNi do sidea loheian, tujanni ase bangsa ai menyadari aha do sasintongni prioritas pakon orientasi goluhni sidea. Tongon, porlu do sipanganon tapi lang sipanganon na gabe jaminan pargoluhan. Porlu do mangan, tapi sedo mangan na gabe prioritas pakon orientasi bani pargoluhan on. Marhiteihon kisah 5 Musa 8:3 on Naibata sihol patugahkon bahasa hatundukonni bangsa ai hubani Hatani Jahowa ai do na padaskon sidea hubani hagoluhan. Prioritas hidup berkaitan do pakon orientasi hidup. Anggo Hatani Naibata do na gabe prioritas bani goluh secara otomatis goluhta pe pasti berorientasi bani Kristus (gabe sarupa pakon Naibata). Goluh spiritualta mengontrol goluh jasmaniahta. Lohei mewakili ganup hisap-hisapni daging (nafsu). Janah balosni Jesus on patugahkon banta ase menempatkon hisap-hisapni daging (nafsu) bani ianan na sasintongni (tepat). Jolma sedo jabolon bani hisap-hisapni dagingni, tapi gabe tuan do. Ambahni ai, menempatkon diri gabe tuan bani hisap-hisapni daging berkaitan do ai pakon keyakinanta bani pemeliharaan Allah bani goluh on.

Panlajouan na paduahon aima godaan laho menggeser panggilan pakon sikap hidup. Ihatahon bani ayat 5-6: “Dob ai iarahkon sibolis ai ma Ia hu huta na mapansing ai, ipajongjong ma Ia bani anjung-anjung ni rumah panumbahan ai, anjaha nini ma hu-Bani: Anggo Anak ni Naibata do Ham, lumpathon Ham ma hu toruh, ai tarsurat do: SuruhonNi do malekatNi manatang-natang Ho, ase ulang antuk naheimu bani batu”. Domma sinobut sebelumni bahasa Jesus aima Anak hinaholongani Naibata, na tinoguni TonduyNi, na roh hu dunia on laho pasaudkon sura-suraNi. Isurahon Naibata do ase Mesias na roh ai, roh ibagas rupa juak-juak (Jes. 53:4-12; Flp. 2:7). Panggilan ampa sikap hidup mesias aima menghamba. Ibagas panggilan ampa sikap hidup na menghamba lang adong keangkuhan/ kesombongan. Panlajouanni sibolis on mencoba menggeser panggilan pakon sikap hidup menghamba nokkan ai. Hal on kontradiktif do pakon panggilan ampa sikap goluh na maningon ipataridahkon Jesus. Pangengkaran bani panggilan pakon sikap hidup ai mararti pangengkaran hubani Naibata, merasa mampu hidup tanpa Allah. Sombong/ angkuh! Keangkuhan adalah ibu dari segala dosa. Laho menangkal panlajouan on, ihatahon Jesus do: Seng bulih lajouonmu Tuhan Naibatamu (Mat. 4:7). Goluh na mangengkari panggilan (sombong, angkuh) cenderung mambahen hita salah menilai diri sendiri. Merasa mampu hidup tanpa Tuhan, janah lang be manghaporluhon Naibata bani goluh on. Bani konteks na sonon ma ipasingat hita marhitei balosni Jesus: Seng bulih lajouonmu Tuhan Naibatamu! Ai ma sikap hidup na menganggap diri dos pakon Naibata. Panggilan ampa sikap hidup na menghamba cenderung mengakui bahasa: tanpa Tuhan saya bukan apa-apa! Tuhan adalah segalanya!

Talu bani panlajouan na paduahon, roh use sibolis melanjuthon panlajouanni na patoluhon. “Iulakkon sibolis ai ma mamboansi hubani pakpak ni dolog na gijang tumang, anjaha ipatuduhkon ma hu-Bani haganup harajaon na i dunia on ampa hasangaponni. Jadi nini ma hu-Bani: Haganupan in hubere pe Bamu, asal ma ra Ham marsombah hubangku” (Mat. 4:8-9). Ijon sihol do sibolis menggeser pengabdian. Berehononni sibolis do harajaon ampa hasangaponni dunia on asal ra Jesus menundalhon Naibata anjaha mengabdi hubani. Kontras pakon hadirionni Jesus na gabe juak-juakni Naibata, na maningon manombah anjaha takluk bani Naibata. Ibalosi Jesus do panlajouan ai marhitei balos: Tuhan Naibatamu do sisombahonmu, sahalaksi do sibalosanmu (Mat. 4:10). Marhitei balos on, itegashon Jesus do bahasa pitah Naibata do sibalosan bani goluh on. Nilai pengabdian jauh melebihi harta pakon kekuasaan. Pengabdian bani Naibata ai do na pagoluhkon. “Ai aha ma gunani bani jolma, age ganup dunia on bani, anggo magou do tonduyni?” (Mat. 16:26).

Martin Luther ongga manghatahon, “Aku tidak dapat mencegah burung terbang di atas kepalaku, tetapi aku dapat mencegahnya supaya tidak bersarang di kepalaku.” Luther manggambarhon bahasa parlajouan sai adong do isekitarta, seng tarolati hita, tapi boi do hita mencengah anjaha marjaga-jaga ase parlajouan ai lang gabe manrajai goluhta. Bani teks on ipataridahkon Jesus do sonaha cara berjaga-jaga anjaha mantaluhon kuasa parlajouan ai. Ipakei Jesus do hagogohonni Hatani Naibata bani haganupan balosNi bani parlajouan na binahenni sibolis. Ijon taridah do hagogohanni Hatani Naibata. Hatani Naibata do na gabe kekuatan laho menghadapi haganup kuasani dunia on na sihol manlajou hita.

Pokok-pokok Renungan Pakon diskusi
1.       Ilajou sibolis do Jesus marhiteihon bagei bentuk pakon cara. Naha do menurut hita bentuk pakon carani sibolis manlajou hita nuan on?
2.       Ganup na itawarhon sibolis hubani Jesus (ruti, habayakon, hasangapon) aima na gati isurahon jolma bani goluh on. Tarlobih bani filosofi Batak 3H (hamoraon, hagabeon, hasangapon). Sonaha do hita mambedahon na ija do parlajouan anjaha na ija do pasu-pasu?
3.       Naha do pengalamanmu pasal hagogohanni Hatani Naibata na gabe sinjata mantaluhon parlajouan?
Pdt. Jonedy Chandra Purba
GKPS Resort Kalimantan Timur