Kamis, 28 Februari 2013

DIBENARKAN KARENA IMAN (Roma 4:1-13)



Man Purpose but God Dispose! Secara sederhana kalimat ini dapat kita artikan “manusia berencana tetapi Tuhan yang menentukan”. Pribahasa ini mengungkapkan sebuah fakta bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang terbatas. Secara khusus, terbatas dalam menentukan hasil akhir dari rangkaian perjalanan kehidupannya. Ya, inilah faktanya: Manusia adalah makhluk yang terbatas.

Dalam perihal keselamatan, fakta keterbatasan manusia ini sangat jelas. Dalam Roma 3:23 Paulus menyebutkan bahwa “semua manusia telah berbuat dosa”. Keberdosaan itu menjadi penghalang bagi manusia untuk sampai kepada Allah dan memperoleh keselamatan. Dengan segala upaya manusia berusaha untuk keluar dari kungkungan dosa, tapi nyatanya, kembali manusia itu diperhadapkan kepada keterbatasannya. Ia tidak mampu keluar dari kungkungan dosa itu, bahkan ketika ia melakukan taurat (4:13). Lalu Allah berinisiatif menjadi pendamai antara manusia dengan Allah dan mengangkatnya melalui Yesus Kristus.

Pada perikop ini Paulus menyaksikan fakta itu dengan pengungkapan fakta sejarah Bapa Leluhur Abraham dan Daud. Dikatakannya, Abraham tidak dibenarkan karena perbuatannya (4:1-3). Demikian halnya dengan Daud yang diampuni oleh Allah (4:6-8). Walaupun keduanya dikenal sebagai pribadi yang ‘baik’, tapi bukan berarti kebakan itu yang menghantarkan mereka kepada gerbang keselamatan. Abraham, demikian halnya dengan Daud, memperoleh keselamatan atas Karya Allah, bukan karena upayanya. Selanjutnya Paulus menegaskan bahwa karya Allah perihal keselamatan itu kemudian dimateraikan (disahkan) melalui sunat yakni tanda bahwa Allah sudah membenarkan mereka (4:11). Sunat adalah tanda pemateraian berdasarkan iman. Dengan pemateraian itu mereka menjadi layak menerima keselamatan. Tentunya dalam iman kepada Allah. Tanda itu kemudian menjadi ciri bagi pola hidup mereka. Dalam hal ini, jika sunat sebagai tanda keselamatan, maka orang yang bersunat tentu diharapkan memperlihatkan ciri yang ‘selamat’. Apa ciri itu? Menjadi agen keselamatan bagi manusia yang lain. Menjadi media bagi keselamatan manusia lain. Sunat berarti pengesahan, orang yang sudah disahkan diharapkan bertanggungjawab atas apa yang disahkan itu.

Menyoal manusia sebagai agen atau media keselamatan, manusia itu harus menjadi manusia bagi sesamanya (homo homini homo). Artinya, manusia itu memiliki habitus (kebiasan) berprilaku kemanusiaan, berperasaan, berbudi, bertenggang rasa, bermartabat luhur, bermurah hati, berjiwa besar dan bertanggungjawab. Semuanya ini adalah bukti bahwa manusia itu benar-benar memperlihatkan materai itu dalam dimensi kehidupannya. Dan tentunya, kesemuanya itu ber-hulu dan ber-muara pada iman kepada Allah. Inilah cirri yang dibenarkan karena Iman sama sperti Abraham dan Daud, kita juga diharapkan tampil demikian.. Amin

Gunung Sitoli - Nias
2 September 2011
23.16 WIB 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar